Label

Kamis, 23 April 2015

BERKENALAN DENGAN TEORI INTERAKSI SIMBOLIK



            Interaksi simbolik merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Blummer tahun 1937 melalui tulisan-tulisannya yang dipengaruhi oleh pemikiran Jhon Dewey, William I. Thomas, dan Charless H. Cooley. Dalam ilmu sosial, perpspektif interaksi simbolik sering dianggap berada di bawah perspektif interpretif atau perspektif fenomonologis. Istilah fenomonologis itu sendiri bisa berarti pandangan ilmu pengetahuan yang menganggap kesadaran manusia dan makna subjektifnya sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial (Natanson dalam Mulyana 2008; 59). Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, teori interaksi simbolik memiliki pengikut dan metodenya sendiri. Jika fenomologi menekankan upaya untuk “memahami”, interaksi simbolik menekankan pada upaya “penafsiran” atas pemaknaan yang dihasilkan dalam interaksi (Leksono 2013:255).

Mendefinisikan Teori Interaksi Simbolik

            Berbeda dengan teori fungsionalisme Talcott Parsons yang lebih menekankan struktur yang membentuk interaksi masyararakat, interaksi simbolik justru menganggap kalau perilaku manusialah yang merupakan faktor terpenting yang membentuk interaksi tersebut. Proses tersebut terbentuk dari realitas sosial yang bersifat intersubjektif. Intersubjektif adalah terma yang bermakna anggota masyarakat membagi dan menginternalisasikan pemahaman mereka tentang dunia melaui sosialiasi dan memungkinkan mereka melakukan interaksi atau komunikasi. Dengan kata lain, dalam upaya memahami realitas sosial, interaksi simbolik akan menekankan fokus penelitiannya pada subjek alih-alih struktur masyarakat.

            Menurut interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Oleh karena itu, penganut teori ini akan berupaya memahami bagaimana simbol terbentuk, makna dalam simbol, dan bagaimana simbol itu memberikan pengaruh dalam interaksi sosial. Simbol itu sendiri didefinisikan sebagai suatu rangsangan yang mengandung makna dan nilai yang dipelajari bagi manusia, dan respons manusia adalah dalam pengertian makna dan nilainya alih-alih dalam pengertian stimulasi fisik dari alat-alat inderanya (Douglas dalam Mulyana 2008:77). Dengan pengertian ini, banyak hal disekitar kita bisa diartikan sebagai simbol. Bahasa adalah simbol, gambar adalah simbol, ekpresi adalah simbol, dan masih banyak hal lainnya yang bisa diartikan sebagai simbol. Hal yang terpenting dalam simbol adalah bagaimana makna di dalamnya bisa memengaruhi orang, jadi simbol bukan persoalan ciri fisik semata (Rose 1974: 140). Dengan demikian, penganut interaksi simbolik yang beranggapan bahwa individu aktif dalam menafsirkan sesuatu disekelilingnya, mereka dapat menghindari problem-problem sturukturalisme dan idealisme dan mengemudikan jalan tengah di antara kedua pandangan tersebut.

Rabu, 15 April 2015

MEMBACA ANIME ONE PIECE : DUNIA DALAM PANDANGAN RAJA BAJAK LAUT



“Apa kau pernah mendengar harta karun luar biasa di penghujung lautan ini? siapa yang menemukannya akan menjadi raja bajak laut. Apakah orang itu aku? Petualangan besar akan menunggu kita di sana.”

            Apakah kau pernah membaca anime one piece? Anime one piece merupakan salah satu anime paling populer, paling keren, dan paling panjang yang pernah ada. Jalan cerita yang tersusun rapi dari hal terkecil ke hal global, kelucuan kasta tinggi, alur yang tegang,  dan beberapa kejeniusan khas ala Oda Sensei, akan menemani Anda selama membaca anime one piece.

Lautan, harta karun, raja bajak laut, dan petualangan besar (sebagaimana yang terdapat prolog di atas dan juga menjadi prolog dari beberapa anime one piece), belumlah semua hal yang dijanjikan dari petulangan Monkey D. Luffy dan kawan-kawan. Meski demikian, keempat hal tersebut bisa menjadi isyarat bagi kita menemukan hukum sebab-akibat dalam anime one piece. Untuk menemukan harta karun, siapapun harus berlayar menuju lautan luas dan meninggalkan tempat tidurnya yang nyaman beserta orang-orang yang disayanginya. Jika berhasil menemukan harta karun tersebut, orang itu akan menjadi raja bajak laut.  Akan tetapi, menjadi raja bajak laut hanyalah salah satu hadiahnya. Hal terbaik dari perjalanan mengarungi lautan luas untuk menemukan harta karun tersebut, adalah perjuangan dan petualangan besar dalam upaya mencapainya.

            Dengan tujuan yang sama seperti prolog di atas, di lain waktu, seperti ini prolog yang digunakan dalam one piece untuk menggambarkan petualangan menuju tempat ajaib yang selalu diimpikan bajak laut tersebut:

“Orang yang mewarisi impian dari semua orang adalah sesuatu yang tidak akan berhenti. Selama orang terus mencari arti dari kata kebebasan, maka orang tersebut tidak akan pernah meneyerah.”

“Dunia. Benar. Carilah kebebasan maka dunia akan berdiri tepat di depanmu. Jika mimpi tiada akhir memandu semangatmu maka raihlah dengan keyakinan penuh pada benderamu!





Sabtu, 04 April 2015

BERKENALAN DENGAN FENOMENOLOGI



“....Femomenologi adalah a science of beginning. Untuk bisa memahami fenomenologi orang harus bersikap sebagai pemula (beginner). Pemula dalam hal apa? Dalam segala hal. Orang bisa saja mejadi pemula dalam berbagai hal, misalnya dalam menyetir mobil, bermain tenis, berbicara dalam bahasa jepang, berenang, melihat pegunungan, menggunakan telepon, atau mengelola usaha. Tetapi pemula-pemula ini bukan pemula dalam segala hal, melainkan hanya pemula dalam hal-hal tertentu (untuk menjadi a science of beginning kita harus menjadi pemula dalam segala hal).  (Hardiman budi, Heidegger dan Mistik Keseharian (Jakarta:  Kepustakaan Populer Gramedia, 2003), hlm.22)”

            Berasal dari bahasa Yunani phainetahai yang berarti “yang menampakkan diri,” dan logos yang berarti “ilmu”, fenomenologi bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hal-hal yang menampakkan diri (phainomenon). Fenomenologi berkembang menjadi sebuah metode baru dalam filsafat dan ilmu pengetahuan di tangan Edmund Husserrl (1859-1938), akan tetapi istilah fenomenologi telah di kenal jauh sebelumnya pada masa Kant, Hegel dan Lambert.
             
            Terdapat beberapa perbedaan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya dalam mengartikan apa itu fenomenologi. Hegel misalnya menganggap fenomena sebagai tahapan menuju noumena. Sementara Kant membedakan pengertian antara fenomena dan noumena. Menurut Kant, manusia yang berkesadaran hanya bisa sampai ke fenomena dan tidak bisa sampai ke noumena, sebab manusia hanya bisa menangkap gambaran-gambaran tentang sesuatu di luar dirinya hanya menurut pada apa yang kesadaran manusia tangkap. Sedangkan Edmund Husserl, yang mendorong fenomenologi berkembang lebih jauh berpendapat bahwa fenomenologi seharusnya dikembalikan dalam konsepnya yang murni, dimana hal tersebut hanya bisa dicapai dengan epoche.
            

Kamis, 02 April 2015

MEMBACA ANIME FULLMETAL ALCHEMIST : BEYOND THE INFERNO

Aku  adalah sosok yang memberikanmu rasa keputus-asaan yang setara dengan yang kau harapkan agar kau tidak sombong.

Ranaka. Perasaan tidak nyaman seperti mendaki gunung yang tinggi, seperti  terbakar dalam api yang menyala-nyala, atau segala sesuatu yang terasa sesak di dalam dada yang mendorong orang yang merasakannya melakukan sesuatu yang jika sesudahnya pelakunya akan menyesal, di sebut ranaka dalam bahasa bugis. Kurang lebih artinya seperti itu. Jika saya merasa benci dan sangat ingin melampiaskan kemarahan saya ke orang-orang, itu artinya saya sedang maranaka. Jika saya merasa tidak nyaman di dada saya, tidak bisa tertidur, karena tetangga saya membeli sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan, itu artinya saya dalam ranaka.
Perasaan ketika sedang meranaka, sangat tidak menyenangkan. Selalu menunggu untuk dilampiaskan. Hanya saja anehnya, setelah dilampiaskan, seringkali kita merasa menyesal.  Tapi jika ditahan-tahan, akan menggangu sepanjang hari, bulan, bahkan mungkin seumur hidup.
Uniknya, kata “ranaka” adalah sebuah “homonim” dalam bahasa bugis. Kara ranaka menunjuk kedua arti yang bisa dipakai untuk hal yang berbeda. Jika kata ranaka yang “pertama” berhubungan dengan apa yang kita rasakan saat merasa iri, benci, dengki, atau marah, maka kata ranaka yang “kedua” menunjuk ke arti “neraka”.
   

       Berikut ini hanya dugaan saya, tapi sepertinya, kata “ranaka” yang pertama dan kata “ranaka” yang kedua punya hubungan yang erat. Bahkan, bisa jadi sebenarnya hanya ada satu kata. Maksudnya, jika saya merasa ranaka karena karena sedang benci, dengki, iri, pada seseorang, itu bisa jadi berarti saya memang berarti benar-benar berada dalam ranaka dalam artian yang kedua. Jika bukan seperti ini artinya, maka alternatif yang lain adalah, perasaan ranaka dalam artian yang pertama adalah hal yang akan menyebabkan kita untuk masuk dalam ranaka dalam artian kedua. Atau bisa jadi, perasaan saat kita sedang ranaka adalah sama efeknya jika kelak seseorang masuk dalam ranaka.

Selasa, 31 Maret 2015

MENGHENTIKAN WAKTU

 Tulisan lama lagi
sewaktu lagi sibuk-sibuknya berpindah 
dari cara berpikir yang satu ke cara berpikir yang lain


Jika kita bisa menemukan irama waktu..kita bisa terbang sekali lagi..
(ost.inuyasha: Fukai Mori-Do As Infinity)

                                             TINTA DI UJUNG PULPEN

Untuk sejenak, mari kita kembali berandai-randai. Bayangkan kita sedang tersesat dalam semesta. Tidak ada bumi, tidak ada matahari, planet-planet, dan semuanya. Yang ada hanya kita dengan kesendirian. Apakah yang kita rasakan? bagaimana kita menjelaskan waktu dalam keadaan ini? Apakah masih ada kemarin, hari ini, dan besok? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada saya, maka yang saya rasakan sekarang adalah bahwa saat itu tidak ada hari kemarin, hari ini, dan besok. Meski begitu, bukan berarti sudah tidak ada waktu.  Masih ada waktu di dalam kepalaku. Saya akan menciptakan waktu berdasarkan efek psikologis yang kurasakan. Itu karena saya dalam perandaianku, saya mebawa diriku yang sekarang yang tidak sedang dalam keadaan damai. Berada dalam waktu yang seperti itu akan membuat perubahan-perubahan psikologis dalam diri saya dan dari situlah saya menciptakan waktu.

Sekarang bayangkan lagi hal ini? Kita masih dalam keadaan yang sama hanya saja kondisi kita sekarang dalam keadaan stabil. Maksud saya, kita dalam keadaan damai. Tidak ada perubahan psikologis lagi dalam diri kita. Apakah saat itu masih ada waktu? saya sekarang, menjawabnya bahwa saat itu tidak ada lagi waktu. Tidak ada lagi yang namanya masa lalu, dan masa depan. Semuanya menjadi sekarang. Kita  terbebas dari ruang-waktu.Kita telah menghentikan waktu.

Namun sebelum itu, ada satu  pertanyaan penting yang perlu kita jawab? Apakah waktu itu?

Kamis, 19 Maret 2015

TUHAN : TIGA RATUS TAHUN DITAMBAH SEMBILAN TAHUN LAGI

tulisan lama
sewaktu lagi suka-sukanya berdiskusi dan mencari
TUHAN

Dalam memahami konsep tentang Tuhan, manusia dengan sendirinya terbagi menjadi tiga golongan yakni: teisme, agnotisisme(ragu-ragu dengan adanya Tuhan), dan atheisme. Pencarian tentang Tuhan telah dimulai lama dalam peradaban manusia yang kemudian menentukan semua gerak dan sendi-sendi kehidupannya. Dan tentang pencarian ini, oleh kaum yang percaya adanya Tuhan menggunakannya sebagai dalil Antropofik untuk membuktikan adanya Tuhan. Menurutnya, kewujudan manusia dan fitrahnya untuk mengenal tuhan sudah membuktikan kewujudan Tuhan.

Ada banyak cara yang digunakan manusia untuk meyakini keberadaan Tuhan. Filsuf dengan konsep ada dan tidak adanya, orang ini dengan dalil penciptaan semesta dan yang lain sebagainya. Namun ada satu hal yang bagi saya tidak bisa untuk disangkal. Sebaik apapun teori yang digunakan untuk meyakini keberadaan Tuhan terkadang itu tidak banyak membantu orang lain untuk meyakinkannya bahwa Tuhan benar-benar ada. Seandainya teori  tentang Tuhan sudah cukup untuk meyakinkan orang lain untuk percaya Tuhan, saya kira forum diskusi atau debat sudah meng-theis-kan orang secara besar-besaran.

Jika misalnya pengenalan Tuhan bisa dilakukan hanya sebatas teori Muhammad SAW tentu akan melakukannya. Dan tentu kita tahu, jika seandainya teori tentang Tuhan bisa membuat orang langsung percaya dengan keberadaan Tuhan saya rasa Ibrahim AS tidak akan disiksa oleh raja Namrud. Sebab kita tahu bahwa perdebatan tentang Tuhan oleh Ibrahim AS dan Raja Namrud malah diabadikan dalam al-Quran.

Rasanya  teori tentang Tuhan hanyalah sebatas penguatan keyakinan. Jika sebelumnya seseorang itu kosong dan melakukan debat tentang teori Ketuhanan itu tetap sulit untuk diandalkan. Malah dengan ini, orang  atheis tiap harinya  tidak pernah berhenti mencari teori baru untuk menyangkal. Padahal kalau di pikir, jika kita percaya bahwa dengan teori ketuhahan yang kita miliki membuat kita bisa percaya kalau ada Tuhan, mengapa pada orang atheis tidak? Sebenarnya apa masalahnya?

Senin, 02 Februari 2015

SELF YANG MENAKLUKKAN : MEMBUNGKAM THE OTHER



“Tak perlu lagi mendengar suaramu ketika aku dapat berbicara tentang dirimu lebih baik daripada kemampuanmu berbicara tentang dirimu. Beritahukan padaku penderitaanmu! Aku ingin mengetahui kisahmu. Baru kemudian akan kuceritakan kembali padamu dengan cara baru. Menceritakan kembali padamu sedemikian rupa sehingga kisah tersebut telah menjadi kisahku, kisah milikku. Dengan menulis ulang dirimu, aku menulis diriku sendiri secara baru. Aku masih penulis yang berwenang. Aku masih sang penjajah, subjek yang berbicara, dan kamu kini menjadi tema pembicaraanku (Hooks, 1990:151-152).

Dalam kehidupan sosial, dalam kehidupan pribadi, dan dalam kehidupan religius sekalipun, saya seringkali terjebak dalam “menulisi” orang lain. Dalam artian, berusaha mengobjektifasi orang lain dan mendefinisikan mereka menurut pada usahaku untuk menaklukkan mereka. Bahkan dalam kasus tertentu, dalam upaya saya “me-lainkan” orang di luar diri saya, saya sering berharap melucuti hak mereka satu persatu dalam rangka menaklukkan mereka atau mungkin menghilangkannya. Hingga pada akhirnya, tidak ada yang tersisa. Aku ingin akulah sang penjajah, yang mendefinisikanmu, menulisimu, menentukan baik-burukmu. Kau hanya perlu bungkam dan mendengarkanku menjelaskan tentang dirimu yang pasti lebih baik dari penjelasanmu tentang dirimu sendiri.

Maka pertama, biar kubeberkan maksudku bagaimana aku me-lain-kan-mu.

ehjohnson3.wordpress.com