Label

Jumat, 12 September 2014

DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PEMURAH LAGI MAHA PENYAYANG



Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan berikut akan membahas mengenai tafsir bacaan basmalah yang diambil dari kitab tafsir Ibn katsir. Tafsir ini dikaji dipengajian HmI Komisariat Ekonomi Unhas hari kamis tanggal 11 september 2014.
Ada tiga pembahasan yang sempat dibahas di pengajian hari tersebut. Pertama, seputar hukum mengenai bacaan basamalah. Kedua, keutamaan basmalah. Dan ketiga, tafsir dari huruf ba dan ismi dalam basmalah.
Tulisan kali ini akan membahas mengenai seputar hukum mengenai bacaan basmalah. Untuk pembahasan selanjutnya, akan dilanjutkan ditulisan-tulisan berikutnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ayat Basmalah yang termasuk dalam surat An-Naml ini merupakan salah satu ayat yang sangat dianjurkan untuk diamalkan sehari-hari. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai hukum tentangnya namun hal tersebut tidak mengurangi keutaamaannya.
Pembahasan basmalah belum dirampungkan dalam tulisan ini. Tapi untuk sekarang, berikut beberapa hal yang bisa didapatkan dari Tafsir Ibn Katsir mengenai Basmalah.

(1)Beberapa Hukum Seputar Basmalah

Di dalam kitab Sunan Abu Daud dengan sanad yang sahih dari Ibnu Abbas r.a. disebutkan bahwa Rasulullah Saw. dahulu belum mengetahui pemisah di antara surat-surat sebelum diturunkan kepadanya: Bismillahir rahmanir rahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pemu-rah lagi Maha Penyayang). Hadis ini diketengahkan pula oleh Imam Hakim, yaitu Abu Ab-dullah An-Naisaburi, di dalam kitab Musladrak-nya. Dia meriwayat-kannya secara mursal dari Sa'id ibnu Jubair.
Dari segi hukumnya, ada dua hal yang sering disoroti seputar bacaan basmalah. Pertama, apakah basmalah merupakan bagian dari setiap surat, atau pemisah antar surat yang satu dengan yang lainnya. Kedua, apakah bacaan basmalah dikeraskan bersama surat al-fatihah dan dengan surat yang lainnya, ataukah tidak dikeraskan sama sekali.

muhandisun.wordpress.com

Rabu, 10 September 2014

BEYOND THE INFERNO (2) : PRIDE


Kebanggaan. Dalam 7 dosa mematikan, kebanggaan atau pride merupakan dosa paling besar yang bisa menempatkan hati seseorang dalam ranaka. Itu karena dari pride, berapa dosa mematikan lainnya seperti envy dan greed bisa muncul. 
 
Pride, memberikan perasaan bahwa yang memilikinya adalah yang terbaik sehingga orang lain harus berada di bawah mereka. Orang yang terjebak dalam pride, memiliki hati, telinga, dan mata tapi tidak dipergunakan untuk memahami, mendengar, dan melihat. Saat berbicara dengan orang lain dia hanya mendengarkan dirinya sendiri. Dia hanya melihat apa yang ingin dia lihat dan memahami apa yang ingin dia pahami.

 Namun uniknya, sekalipun pride membuat seseorang merasa jauh lebih besar dari orang lain, dalam anime fullmetal alchemis, pride justru digambarkan yang terkecil dari semuanya. hal ini barangkali karena merendahkan orang lain tidak lantas membuat yang merendahkannya menjadi lebih tinggi.

ervakurniawan.wordpress.com
       

Selasa, 09 September 2014

AN EPISTEMOLOGY

            Lebaran idul fitri kemarin, khatib menkhotbahkan sesuatu yang terdengar seperti epistemologi. Khatib tidak menyebutnya seperti itu, tapi dari penjelasannya, kita bisa mendapatkan pengetahuan tentang cara dan alat yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan.

            Sang Khatib, dalam bahasa setempat (bugis), menjelaskan epistemologi tersebut dengan bahasa yang sederhana. Epistemologi yang merupakan salah satu pembahasan dalam filsafat, dijelaskan kepada pendengar seolah epistemologi adalah kejadian yang baru disaksikan kemarin sore. Penjelasannya bahkan terdengar seperti khotbah biasa, tidak serumit pelajaran filsafat di kelas-kelas biasanya.

Untuk kata “epistemologi”, khatib itu sendiri menyebutnya dengan “appatiroang”.  Appatiorang sendiri bisa berarti, “sesuatu yang kita gunakan untuk meniru”. Tapi itu arti sekilasnya. Kata “appatiroang” sudah jarang digunakan dalam bahasa bugis sehari-hari.

“Appatiroang,” kata khatib tersebut, terdiri dari empat tingkatan. Berikut empat tingkatan appatiorang yang khatib tersebut maksudkan.

iperpin.wordpress.com


1.      Wahmi

Mulanya, manusia dilahirkan dalam tidak keadaan tidak tahu apa-apa. Tapi kemudian mereka diberi hati, telinga, dan mata agar mereka bersyukur.

Bayi, pada mulanya tidak tahu apa-apa. Tapi bagaimana mereka bisa menangis ketika lapar? Untuk menangis ketika lapar, mereka butuh sesuatu untuk mendeteksi rasa lapar mereka. Di tahap inilah, alat pertama bekerja. Sesuatu yang mendeteksi rasa sakit atau lapar mereka.

Saya sebenarnya tidak mendengar dengan apa khatib tersebut menemukan tingkatan yang pertama ini. Tapi pengetahuan yang didapatkan dari alat yang pertama ini, melekat dengan diri sendiri (khuduri).

Rasa lapar, sakit, adalah pengetahuan yang melekat diri sendiri. Kita dengan mudah mengetahuinya karena pengetahuan tersebut melekat dengan diri kita sendiri. Seperti inilah kharakteristik dari alat yang pertama ini.

Jika penjelasan tentang alat yang pertama ini ditambahkan lagi, maka hal ini juga bisa berarti pengetahuan tentang rasa cinta, benci, iri hati dan rindu, bersumber dari alat yang pertama ini. Orang yang mengutamakan alat yang pertama ini dalam usahanya mendapatkan pengetahuan, biasa disebut dengan kaum perasa. Pengetahuan yang didasarkan kebencian atau kecintaan terhadap sesuatu, adalah ciri pengetahuan dari kaum ini.
 

Kamis, 26 Juni 2014

BEYOND THE INFERNO

Aku  adalah sosok yang memberikanmu rasa keputus-asaan yang setara dengan yang kau harapkan agar kau tidak sombong.


Ranaka. Perasaan tidak nyaman seperti mendaki gunung yang tinggi, seperti  terbakar dalam api yang menyala-nyala, atau segala sesuatu yang terasa sesak di dalam dada yang mendorong orang yang merasakannya melakukan sesuatu yang jika sesudahnya pelakunya akan menyesal, di sebut ranaka dalam bahasa bugis. Kurang lebih artinya seperti itu. Jika saya merasa benci dan sangat ingin melampiaskan kemarahan saya ke orang-orang, itu artinya saya sedang maranaka. Jika saya merasa tidak nyaman di dada saya, tidak bisa tertidur, karena tetangga saya membeli sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan, itu artinya saya dalam ranaka.

Perasaan ketika sedang meranaka, sangat tidak menyenangkan. Selalu menunggu untuk dilampiaskan. Hanya saja anehnya, setelah dilampiaskan, seringkali kita merasa menyesal.  Tapi jika ditahan-tahan, akan menggangu sepanjang hari, bulan, bahkan mungkin seumur hidup.

Uniknya, kata “ranaka” adalah sebuah “homonim” dalam bahasa bugis. Kara ranaka menunjuk kedua arti yang bisa dipakai untuk hal yang berbeda. Jika kata ranaka yang “pertama” berhubungan dengan apa yang kita rasakan saat merasa iri, benci, dengki, atau marah, maka kata ranaka yang “kedua” menunjuk ke arti “neraka”.
   

Senin, 16 Juni 2014

DEMUTERI

http://ervakurniawan.files.wordpress.com/2011/05/diam.jpg
Aku masih berpikir keras ketika orang-orang itu datang mengerumuniku. Dalam pikiranku, muncul banyak kalimat yang ingin kutumpahkan pada orang-orang. Tapi salah seorang diantara mereka malah menanyakan padaku sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ingin kuingat.

“Siapa orang yang membunuh Jamuteri?”

Kepalaku seperti berputar. Pikiranku harus kembali bekerja keras.

“Apa Demuteri yang membunuhnya?” 

Aku masih belum menjawab.

“Ayo, katakanlah!” seseorang lagi ikut mendesak. “Apa Demuteri yang melakukannya?”

Aku melirik ke arah orang yang bertanya. Seharusnya aku bisa menjawab pertanyaan ini dengan mudah, tapi entah kenapa belum ada jawaban yang muncul di kepalaku.

“Jangan takut, Nak! Kalau memang Demuteri yang melakukannya katakan saja! Kami tidak akan melakukan apa-apa padamu.”

Di desak, aku mulai menghitung kemungkinan yang akan muncul jika aku memutuskan menjawab “ini” atau 
“itu”. Ekspresi apa yang akan muncul jika aku menjawab “iya”? Kira-kira, apa yang akan orang katakan jika aku menjawab, “tidak”? hal-hal seperti itu muncul di kepalaku.

Orang yang sedang bertanya di depanku sepertinya tampak sangat ingin kalau aku menjawab “iya”. Jika aku menjawab sebaliknya, kira-kira apa yang akan terjadi?

“Cepat, Nak,” seseorang lagi kembali mendesak. “Demuteri yang membunuh Jamuteri, bukan? Di pinggir sungai ketika waktu menjelang malam?”

Sabtu, 14 Juni 2014

PSYCHO-PASS REVIEW : PEMIMPIN KHARISMATIK

 

“Dia seorang kriminal dengan pendidikan tingkat tinggi. Selalu menjaga kondisi psikologinya dalam keadaan sehat, memiliki kharisma yang unik, dan jarang membunuh orang dengan tangannya sendiri. Dia memperdaya pemikiran orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai yang diinginkannya. Layaknya dirigen musik, dia mengalunkan kejahatannya terus-menerus.”
Kougami menjelaskan seperti apa orang yang sedang dia cari. Di depannya, Saiga-sensei sedang menatap ke luar jendela.
“Kougami,” Saiga-sensei ingin penjelasan yang lebih spesifik. “ Jelaskan kharisma itu apa?”
“Saya gunakan kata itu dengan maksud sebagai sikap seperti pahlawan atau penguasa.”
Saiga Sensei memperbaiki letak kacamatanya. “ Jawban itu kuberi nilai,” Saiga-sensei berpikir sejenak, “dua puluh poin.”

“Kharisma mempunyai tiga elemen,” Kini Saiga-sensei yang menjelaskan. “Sikap seperti seorang pahlawan atau nabi, kemampuan yang membuatmu merasa nyaman  saat kau berada bersamanya, serta kecerdasan dalam berbicara dalam banyak hal. Dari ketiga tersebut termasuk elemen manakah orang yang kau cari?”

Kougami menatap Saiga-Sensei. “Saya pikir dia memiliki semuanya.”

Rabu, 04 Juni 2014

BOLEHKAH AKU BERTERIMA KASIH DENGAN CARAKU SENDIRI?

unik2day.blogspot.com
unik2day.blogspot.com

“Bolehkah aku berterima kasih dengan caraku sendiri?”

“Meski tidak sesuai dengan apa yang diharapkan orang tempatmu berterima kasih, begitu?”

“Iya. Bisakah?”

“Kenapa tidak melakukan sesuatu sesuai yang disenanginya saja?”

“Aku ingin melakukannya dengan caraku sendiri.”

“Kau tidak menjawab pertanyaanku.”

“Bisakah?”

“Baiklah. Berikan aku contoh yang jelas!”

“Bukankah itu sudah jelas?”

“Jelas apanya? Kau hanya mengatakan berterima kasih dengan caramu sendiri.”

”Tapi kukira itu sudah jelas.”

Lelaki itu menghela nafas. Jam dinding berdetak tepat di atas kepalanya.

“Bisa kita membuat semacam simulasi?”

“Simulasi?”

“Kuberikan kau makanan, bagaimana kau akan berterima kasih padaku?”

“Kurang jelas.”

“Kurang jelas? Makanya dari tadi aku memintamu menjelaskannya lebih rinci.”

“Balasan apa yang kau harapkan dariku?”

Lelaki itu berpikir sejenak.

“Sebenarnya aku tidak mengharapkan terima kasih sih.”

“Tapi jika aku mendapatkan sesuatu darimu maka aku harus berterima kasih.”

“Mengapa jadi rumit begini? Baiklah, maukah kau mengambilkanku minuman?”

Perempuan itu melirik gelas di samping kirinya.

“Tapi airku sudah habis.”

“Kan dikulkas masih ada. Kau bisa mengambilnya untukku.”

“Tapi aku tidak bisa.”

“Tidak bisa? Tidak bisa bagaimana?”

“Anggap aku tidak bisa. Ini kan hanya simulasi.”

Lelaki itu menghela nafas lagi.

“Tapi aku kehausan.”

“Kau benar-benar kehausan?”

“Iya. Ini hanya simulasi tapi aku benar-benar kehausan.”

“Katanya hanya simulasi.”

“Tapi aku benar-benar kehausan. Simulasi ini mengambil refrensi dari realitas.”

“Baiklah. Aku sedang tidak bisa mengambilkanmu minuman.”

“Jadi?”

“Apanya?”

“Bagaimana kau akan berterima kasih padaku.”

Laki-laki itu berdiri, mengambil minuman di kulkas, lalu kembali lagi ke meja makan.

“Bagaimana ya?”

“Mau kuberi waktu beberapa menit?”

“Untuk apa?”

“Untukmu berpikir, bukan? Lagipula aku tidak butuh terima kasih sejak awal.”

“Itu dia masalahnya.”

“Masalah? Masalah apa?”