Label

Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 19 Januari 2016

AMAR MUNKAR NAHI MA’RUF

Di tepi pemukiman setelah tengah hari berlalu, pada sebuah dahan yang tidak terlalu besar, seekor burung yang baru bertengger, melepaskan selembar daun dari rantingnya. Daun itu jatuh terayun oleh angin seperti tarian. Tapi sesaat mendekati tanah, angin yang berhembus ke timur kembali menerbangkannya. Seperti daun yang terayun tersebut, pemukiman di dalamnya pun menerima sepenuh hati ketika angin dari barat datang dan mengaliri setiap sudutnya.

Pemukiman tersebut adalah tempat di mana cerita ini bermula. Tapi karena tak seorang pun pernah melihatnya, susah menjelaskan detailnya. Pastinya, jika ditimbang dengan menempatkan sepotong kayu besar di bawahnya, sudah seharusnya pemukiman itu berat sebelah. Sebagian besar orangnya berkumpul di timur. Hari itu, mereka mengerumuni sekelompok musafir yang baru tiba sehari lalu tapi sudah berdebat dengan musafir lain yang tiba dua hari sebelumnya.

Di antara orang-orang yang mengerumuni musafir tersebut, seorang anak kecil menggemgam tangan ibunya. Dia tidak terbiasa mendengar orang saling meneriaki dalam jarak yang dekat. Ibunya pun sesekali meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Seseorang diantara musafir tersebut berteriak kearah musafir lainnya. Mereka baru tiba di tempat tersebut sekitar 19 menit yang lalu tapi telah mendebatkan banyak hal.

“Orang tidak berakal seperti kalian pantasnya diapakan ya? Jangan beritahu aku! Biar kutebak.” Musafir tersebut memegang dagunya dan melirik ke kiri atas. ”Aku tahu, orang seperti kalian pantasnya dibuang kelaut saja.” Lanjutnya lalu tertawa. Orang-orang disekitarnya mengikuti.

Mereka yang menjadi lawannya terlihat geram. Seseorang diantaranya, melirik kayu seukuran lengan di sampingnya.

“Apa urusanmu? Seolah kami lebih pantas ke laut saja. Lihat dirimu! Kamu bilang dirimu bijak tapi berkata seolah orang bodoh. Beginikah orang yang padanya dijanjikan warisan yang tidak pernah habis dari Raja?” Orang yang dihina dan mengenakan baju hitam berbercak putih membalas. Matanya mengawasi tegas pada orang di depannya. Yaitu orang yang mengenakan pakaian putih berbercak hitam.

Minggu, 27 Desember 2015

PEREMPUAN YANG BERJALAN TANPA ALAS KAKI DI BAWAH HUJAN


Kamis ke tiga bulan desember tahun kemarin, ketika hujan mengguyur kota kami, saya bertemu dengan perempuan yang berjalan tanpa alas kaki di lorong dekat rumah. Hujan yang deras, membuat genangan air menutupi sebagian langkah kami. Bunyi air yang mengalir di selokan, sayup-sayup terdengar bersama bunyi hujan yang menghantam atap rumah, beton tempat kami berpijak, dan pada tubuh kami sendiri.
Hari itu, saya mengenakan jas hujan berwarna hijau – tidak ada payung di rumah jadi saya mengenakan jas hujan yang biasa saya simpan di bagasi motor – dan dia mengenakan jas hujan berwarna biru langit.
Perhatian saya terpusat padanya, tapi waktu itu, saya merasa bisa memotret keadaan di sekitar saya. Di tengah hujan, penglihatan saya seolah bisa menembus sampai ke ujung lorong yang panjangnya bisa ditempuh tujuh menit perjalanan. Saya bahkan merasa bisa merasakan potongan lorong dari belakang mata saya sampai ke gerbang. 
Lorong di depan rumah saya sempit. Saat dua orang dewasa merentangkan tangan, salah satunya harus menjejakkan kaki di selokan. Tetangga di depan rumah selalu kesulitan memarkir mobilnya jika motor saya terparkir di depan rumah. Mungkin salah satunya karena itu – saya tidak yakin – saya merasa segala sesuatu yang ada pada pukul 14.00 wita menyusut dan hanya menyisakan kami berdua.
Dia berjarak sekitar tiga puluh empat langkah ketika pertama kali saya melihatnya. Saya berjalan di sebelah kiri dan dia di sebelah kanan. Dia menuju selatan dan saya ke utara. Dan adegan ini, tiba-tiba mengingatkan saya dengan cerpen Haruki Murakami, tentang dua orang yang berpapasan pada hari yang cerah pada bulan April di Tokyo.
Kau pernah merasa ada cerita pendek yang menceritakan sesuatu seperti yang telah kau alami? Atau membuka matamu untuk memandang lebih jernih terhadap pengalaman-pengalaman tertentu? Saya membaca cerpen Murakami sekitar dua tahun lalu dan sekarang saya merasa seperti berada dalam cerpennya.
Seketika, saya pun berusaha mengingat adegan-adegan dalam cerpen Murakami dan membayangkan bagaimana rasanya berada dalam cerpennya.
Mungkinkah perempuan di depan saya 100% sempurna untuk saya? Tokoh dalam cerpen Murakami merasa demikian dan setiap orang memiliki pandangan tertentu mengenai pasangan yang sempurna untuknya. Dan menurut saya, itu adalah hasil kerja keras dari setiap orang yang berusaha mengenali dirinya sendiri.

Jumat, 04 Desember 2015

BERKENALAN DENGAN TIGA KOMPONEN YANG MENENTUKAN HARGA DARI SETIAP KOMODITAS

Adam Smith, bapak ilmu ekonomi yang sekaligus filsuf tersebut, dalam buku Wealth of Nation bab VI, menjelaskan tiga komponen yang menentukan harga komoditas. Pemikir Skotlandia itu mencoba menjawab pertanyaan: mengapa harga sepotong roti bisa sebesar Rp 1.500 dan mengapa roti bisa lebih murah dibandingkan seikat kangkung yang seharga Rp 2.000.

Jawabannya, menurut Smith, ditentukan oleh tiga komponen yang menyusun harga komoditas, yang juga sekaligus sumber pendapatan asli setiap masyarakat dalam negara. Ketiga komponen tersebut  berturut-turut adalah: wages of labour (upah tenaga kerja), profit of stock (keuntungan dari pemilik modal), dan rent of land (sewa lahan) dari tuan tanah.



Menurut Smith, setiap komoditas selalu terbagi ke dalam ke tiga komponen tersebut. Baik itu salah satu, dua, atau tiga dari komponen tersebut. Berikut pernyataan Smith mengenai hal tersebut:
“As the price or exchangeable value of every particular commodity, taken separately, resolves itself into some one or other or all of those three parts; so that of all the commodities  which compose the whole annual produce of the labour of every country, taken complexly, must resolve itself into the same three parts, and be parcelled out among different inhabitants of the country, either as the wages of their labour, the profits of their stock, or the rent of their land.” (Smith, 1997: 79)

Senin, 30 November 2015

SUATU SAAT KITA INGAT HARI INI

Saat langit retak-retak …
Bulan dan matahari terusir dari peraduannya ...

Suatu saat kita ingat hari ini,
Anak kecil yang kau lihat menangis hari itu …
Memungut dan melekatkan yang retak-retak …
Memanggil pulang kepada yang terusir pergi …
di pangkuannya meletakkan …

Suatu saat kita ingat hari ini,
Bulan dan matahari lagi terbit di bawahnya padu langit …
Mengumpulkan bintang, pada dirinya menyebarkan …

Suatu saat kita ingat hari ini,
Lupa kita pada kesedihan hari itu …

Suatu saat kita akan hari ini …
Saat terbit matahari, saat menyempurna rembulan …

Suatu saat kita ingat hari ini,
Tanggal hari pada kaleder,

Suatu saat kita akan ingat hari ini dalam sebuah cermin …

Kita temukan juga dia di sana …
Meletakkan tangannya di pundak …
Tertawa …
Karena saling mengingat kita pada hari ini …


-----
-----

Judulnya seperti pada salah judul cerpen Maggie Tjoakin dalam buku ,"Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa"

Rabu, 14 Oktober 2015

SHAMAN

Tulisan lama

Seseorang berlari jauh ke tengah hutan. Dia harus gesit, cepat , sebab jika tidak, dia akan di telah hidup-hidup oleh pemangsanya. namun, segesit apapun dia sekarang, atau mungkin sesenang apapun dia sekarang karena berhasil menyelematkan diri, semua itu hanya sementara. Ada satu fakta penting yang tidak bisa diubahnya. Dia adalah mangsa. Makanan bagi yang lainnya. dia tidak punya pilihan selain harus terus berlari. Sebuah makhluk diciptakan hanya bisa bertahan hidup hanya jika memangsanya.

 ***

Shaman adalah orang yang percaya ada kekuatan yang religius di balik hewan yang mereka buru. Mereka percaya spesies bukanlah kategori yang tegas atau permanen: manusia bisa menjadi hewan dan hewan bisa menjadi manusia. Shaman memiliki penjaga berupa burung dan hewan serta dapat berkomunikasi dengan binatang yang dimuliakan sebagai utusan dari kekuasaan yang lebih tinggi.

Oleh karena itu shaman seringkali merasa tidak nyaman dalam melakukan pemburuan. Mereka sering berempati dengan berpikir bagaimana jika mereka berada di posisi hewan yang mereka buru. Mereka percaya bahwa dulu binatang-binatang membuat perjanjian dengan manusia, dan dewa binatang secara rutin mengirimkan ternak dari dunia yang lebih rendah untuk diburu. Tapi itu terjadi karena pemburu pertama berjanji untuk melaksakan upacara-upacara yang akan memberikan kehidupan setelah mati. Para pemburu sering menahan diri dari seks sebelum ekspedisi, berburu dalam keadaan suci secara ritual, dan merasakan empati yang sangat mendalam dengan mangsanya.

Orang paleolitik di zaman batu yang percaya ini melakukan ritual untuk menghargai buruan mereka. Terkadang jika mereka mendapati buruan mereka menderita lama sebelum mati, mereka ikut mengelilinginya sambil menangis. Tulang-tulang dan bagian yang tidak mereka konsumsi dikembalikan ke tanah yang secara simbolis berarti mengembalikan mereka ketempat asal mereka. Mereka bahkan bersedia membuat gua-gua yang panjang di dalam tanah sebagai tempat untuk melakukan ritual penghargaan pada hewan yang mereka buru.

Minggu, 04 Oktober 2015

BERKENALAN DENGAN CIRI-CIRI PEMAKAN BANGKAI



Di era di mana orang-orang bisa berbagi informasi sebanyak-banyaknya, saya sering menemukan kasus di mana seseorang bisa menjadi pemakan bangkai dengan mudahnya. Misalnya, suatu hari, seorang teman saya di facebook, dengan bangganya tiba-tiba menshare kejelekan seorang negarawan, yang mungkin saja Anda idolakan. Bukan dia yang menulis kejelaskan orang tersebut sih, dia hanya ikut-ikutan menshare. Tapi kan sama saja. Bagus jika berita itu benar, tapi jika salah, maka dia akan ikut bertanggung jawab terhadap seluruh sumpah serapah yang ditujukan pada tokoh tersebut.

Kita mungkin bisa menyebutkan lima perbuatan memakan bangkai dalam sepuluh menit, akan tetapi, makan siang para pemakan bangkai pada dasarnya memiliki tipe yang seragam: memanfaatkan atau mengonsumsi bangkai orang lain yang ujung-ujungnya hanya untuk mengenyangkan diri sendiri. Misalnya, dengan tujuan memperbanyak jumlah jempol pada status facebook mereka.

Penggiat bangkai terkadang juga suka memanfaatkan bangkai  orang lain untuk mengharumkan kelompokkan rujukan mereka sendiri. Misalnya, menyebar keburukan yang diduga dilakukan oleh A yang diduga merupakan penganut aliran tertentu yang diduga sesat. Orang-orang ini adalah jenis orang yang secara ilutif membuat diri mereka merasa lebih baik dengan cara merendahkan orang lain. Seolah berkata, “Lihat nih, keburukan orang-orang dari kelompok ini! Saya bilang juga apa, mereka itu sesat.” Lalu orang-orang yang sepaham dengan mereka pun merasa kalau diri merekalah yang terbaik dari seluruh generasi.

Tapi apakah semua orang yang menyebar keburukan orang lain bisa disebut pemakan bangkai? Sebenarnya tidak juga. Orang yang tertindas lalu menceritakan keburukan penindas tersebut, bukanlah termasuk pemakan bangkai. Jadi tipe-tipe seperti apakah yang termasuk pemakan bangkai? Berikut empat ciri-cirinya.

laudah.wordpress.com
Pertama, pemakan bangkai akan menceritakan keburukan orang lain tanpa perasaan simpati. Alih-alih mengambil pelajaran, pemakan bangkai justru merasa senang atas kejatuhan orang lain. Mereka identik dengan Machiavellian. Untuk mendapatkan keuntungan mereka tidak segan-segan merendahkan dan menyebar kebencian terhadap orang lain.

Pada orang seperti ini, Anda harus khawatir. Jangan larut dan ikut menikmati bangkai yang dia tawarkan! Di hari setelah esok, tidak menutup kemungkinan, giliran bangkai Andalah yang akan memenuhi mulut mereka.

Kedua, pemakan bangkai sejatinya adalah seorang yang dermawan. Ketika bertemu dengan teman-temannya, dia tidak akan segan-segan meneraktir teman-temannya dengan bangkai dari saudara-saudaranya sendiri.

Mereka dermawan karena sejatinya mereka memahami sepenuhnya bahwa informasi memiliki tali kasih yang erat dengan dominasi. Selain mendominasi orang-orang yang bangkainya dijadikan santap siang, mereka juga mendominasi orang-orang yang dia traktir dengan bangkai tersebut. Mereka suka momen-momen ketika membagi-bagikan bangkai dan saat mereka jadi pusat perhatian para pengemil benda bau tersebut.

Pada orang seperti ini, Anda harus mengikuti nasehat Patrick Stars,”jangan sekali-kali membiarkan diri Anda menjadi susuh yang tumpah”. Sebab, ada relasi antara informasi dan dominasi (Foucault). Jadi, perhatikan baik-baik tempat di mana Anda mau curhat. Jangan sampai Anda membiarkan diri Anda didominasi orang lain lalu dijadikan bangkai santap siang teman-teman Anda yang Machiavellian.

Ketiga, pemakan bangkai adalah koki yang jago dalam membumbui cerita. Kebanyakan dari cerita buruk tentang orang lain tersebut pada dasarnya sering dibumbui dengan banyak hal. Tapi sebagus apapun itu, kalau bangkai ya tetap bangkai. Seperti kata Tuan Crab, “menaruh garam di atas craby patty tidak lantas menjadikan crabby patty jadi asin. Bukan crabby patty yang asin tapi garamlah yang asin”.

 Jadi jangan langsung ikut-ikutan menyebar keburukan orang lain. Apalagi kalau hanya sekedar dugaan. Tidak semua profesi diperiklanan itu bagus. Salah satunya ya itu, mengiklankan bangkai saudara sendiri.

Maka pada orang-orang beriman, disarankan, Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu". [Al Hujurat : 6].

Keempat, pemakan bangkai sejatinya suka menipu diri sendiri. Mereka senang mengetahui orang lain berbuat keburukan karena hal tersebut bisa membuat mereka merasa lebih baik. Pemakan bangkai terbiasa menghapus kecemasan akibat kesalahan mereka dengan menyakinkan diri sendiri bahwa dia mungkin masih memiliki tabungan kebaikan lebih dari orang yang bangkainya dia makan.

Mereka lihai dalam melakukan formasi reaksi. Yakni, menampakkan kesalahan-kesalahan orang lain untuk menyembunyikan kesalahan-kesalahan mereka sendiri.

Empat ciri-ciri pemakan bangkai tersebut, boleh jadi kita temukan berkumpul pada seseorang di samping kita. Tapi, alih-alih mencari ke empat ciri tersebut pada orang lain, sebaiknya kita memulainya dari diri sendiri. Jika Anda mulai mendeteksi hal-hal tersebut segeralah memperbaiki diri. Jangan membiarkan hal tersebut menganggu kesehatan mental Anda. Memakan bangkai saudara sendiri bisa membuat membuat kita lupa diri dan melemahkan penjagaan akhlak. Ini sesuatu yang tidak bagus. Kesalahan yang menimpa orang lain juga bisa menimpa kita, bukan? Jadi sebaiknya ambil pelajaran saja, jangan ikut-ikutan ngebangkai ria.

Akan tetapi, sebagaimana dikatakan sebelumnya, tidak semua menceritakan keburukan orang lain itu dilarang. Pada tahap-tahap tertentu, kita bahkan dianjurkan untuk melakukannya. Misalnya, saat kita berada di posisi yang tertindas.

Jadi, jika Anda dianiaya di negeri Anda sendiri, sampaikanlah! Jika Anda ditindas oleh sistem pendidikan, bicaralah! Jika ditindas oleh penguasa, berteriaklah sekeras-kerasnya! Sekencang-kencangnya. Lakukan dengan lantang dan terus terang. Sebab sebagaimana kata Al-Quran, “Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali orang-orang yang dianiaya (An-Nisa’: 148)”.

Senin, 17 Agustus 2015

MHYSA

Aku kadang takut kelak jika kau pergi..
sementara aku masih belum bisa meyakinkan diriku dan dirimu..
bahwa dunia ini benar-benar hanya fana..
sementara akhirat itu jauh lebih kekal..

aku terkadang takut kelak jika aku dan atau kau pergi..
kita dalam kecapaian yang luar biasa..
terduduk dan menangis..
karena tersadar telah menghabiskan waktu penuh seluruh hanya untuk mengejar fatamorgana
yang kita sangkakan kebahagiaan yang nyata..
lalu tak mendapatkan apa-apa sementara keringat telah mencapai ubun-ubun kita..

aku takut di hari tuamu..
air mata yang kau tumpahkan hanya sia-sia..
kita menangis untuk sesuatu yang semu dan telah pasti tidak bisa kita dapatkan...
sementara pada kebagiaan yang nyata..
masih tak menarik hati kita..

tidakkah kau takut bahwa semua gelisah, marah, dan terjagamu sampai pagi selama ini hanya sia-sia??
tidakkah kau takut bahwa seluruh hidupmu hanya akan kau habiskan dalam kegundaan pada kepalsuan yang memang tidak mungkin kau dapatkan sekalipun hanya untuk menyenangkan tetangga-tetanggamu?
dunia masih terus berlari darimu..
sementara masa depan yang telah pasti juga mendapatkanmu..

pop-mitzvah.com