Label

Rabu, 26 Maret 2014

PERANG


Pada mulanya, hasratlah yang menang. Di jalan-jalan tengah kota, berjuta hasrat melimpah ruah. Di selokan, hasrat tiada hentinya mengalir serupa air keruh di musim hujan. Tidak ada yang dapat menghentikan. Tidak ada aturan yang mengikat. Semua orang boleh melampiaskan hasratnya kapanpun dan dimanapun. 

Hasrat menyerbu. Hasrat membanjiri. Hasrat menghujani. Semua orang melepaskan hasrat. Mengeluarkan, menguapkan, sampai tak ada yang terpendam. Manusia kegirangan seperti anak kecil yang melihat permen di dalam toples. Mereka menikmati anugerah terhebat, sebuah mesin pendorong yang mengajarkan untuk menali.  

Waktu itu, yang terletak jauh di masa lalu, manusia baru berkenalan dengan dirinya sendiri, baru berkenalan dengan hasratnya. Pengetahuan belumlah sepenggelan. Sekalipun telah lahir, barulah belajar merangkak. Tajam pedangnya masih terletak tersembunyi jauh di masa depan.

***
Tapi  seiring berlalunya waktu, hasrat perlahan-lahan meleleh. Di jalan-jalan ibu kota, hasrat mendapatkan perlawanan. Pada gunung-gunung tinggi juga pada laut, berjuta pedang terhunus. Lalu pada kumpulan manusia yang terikat bersama, untuk hasrat, badik tiba-tiba di acungkan. Bahkan pada sel, jaringan, dan organ, beribu duri diancangkan.

Alam, masyarakat, dan diri individu-individu, berteriak seolah anak kecil yang pada telapak tangannya dimatikan puntung rokok. Mereka melawan. Menolak untuk terus disakiti.

Hasrat memanaskan. Hasrat membakar. Hasrat menyakiti. Tapi pengetahuan perlahan-lahan menunjukkan tajinya.

Berkat organisir dari pengetahuan, alam, masyarakat, dan diri individu-individu memunculkan perlawanan di semua lini serupa jamur di musim hujan. Bersatu padu untuk memberi tali kekang di kepala hasrat. Dia memang menyenangkan tapi melampiaskannya sepenuh-penuh bisa membakar alam, masyarakat, dan diri individu-individu.

Pertemuan dengan masa depan mengajarkan pengetahuan untuk tidak hanya sekedar merangkak dan berjalan. Pengetahuan telah bersiap untuk berlari.

***
Lalu pada hasrat, dipasanglah tali kekang yang bernama pengetahuan. Pengalaman menumbuhkannya ketika batas-batas telah terlewati.

Selasa, 18 Maret 2014

SAJAK

buat SVZ

Pagi hari di minggu ke tiga bulan maret, aku diminta membaca sajak di depan teman-temanku. Itu bukan yang pertama kalinya aku akan tampil di depan umum, tapi saat itu terasa sangat membebani. Berdiri sendirian di depan papan tulis, sementara semua perhatian mengarah padaku rasanya benar-benar tidak menyenangkan. Sedikit saja kesalahan yang aku lakukan, orang-orang pasti akan mengetahuinya.

Aku tidak bisa memfokuskan diriku pada sajak di tanganku. Bahkan ketika aku mencoba untuk focus justru di saat itulah aku tidak bisa focus. Focus seringkali hanya bekerja padaku untuk dua alasan. Pertama, jika aku bertemu dengan sesuatu yang membosankan. Dalam kondisi ini, pengalih perhatian sangat mudah membuat focus. Kedua, jika menemukan sesuatu yang aku cintai. Perhatianku tidak akan terbelah jika aku harus memperhatikan sesuatu yang padanya aku berpikir aku jatuh cinta.

Tapi saat itu, ketika aku berdiri di depan semua orang aku tidak menemukan satu alasan pun. Otakku keluh saat mencoba untuk focus. Aku mencoba menebak semua yang ada dipikiran orang-orang dan justru itulah yang membuat pikiranku menjadi terpecah belah.

“Ekspresimu tidak sesuai sajakmu.”

“Intonasimu buruk, jika harus memilih sejak dari awal, mungkin aku akan memutuskan untuk tidak mendengarmu.”

“Ketika kau menuliskannya, apakah kau sedang memikirkan bagaimana membuat lelucon?”

“Apakah itu yang kau sebut sajak?”

Nah, itu dia masalahnya. Tulisan yang ada ditanganku, aku ragu itu bisa disebut sajak. Aku hanya mengumpulkan kata-kata lalu menjadikannya padu. Lagipula, aku baru menulisnya pagi ini sebelum pelajaran pertama dimulai.

“Siapa orang yang menginspirasi sajakmu?”

Dan itu dia pertanyaan yang paling kuhindari. Aku mungkin mencoba memikirkan apa pendapat orang lain tapi sebenarnya bukan itu masalahnya. Jika aku mendapatkan poin yang rendah, bagiku tak masalah. Sama tidak bermasalahnya seandainya teman-temanku menertawakan kebodohanku. Aku bisa mengakalinya dengan ikut tertawa sehingga kami tampak tertawa bersama. Tapi tidak untuk dia yang tepat berada di arah jam 11 ku. Dialah yang menginspirasi sajakku sekaligus penyebab mengapa aku bisa secangggung ini di depan orang-orang.

Kamis, 06 Maret 2014

KREDO 8 : APOFATIK


17 Februari 2014 pukul 10:26

Pada sehari waktu, di hari yang sejuk, seruang kelas yang biasanya sepi mendadak ramai. Ini hari yang hebat. Seseorang yang mengaku memiliki pengetahuan yang tinggi mendatangi salah satu kelas di kota kelahiran sang utusan.

Bangku di susun rapi. Para murid duduk dengan tenang. Semua orang tahu bagaimana caranya menghadapi guru terhebat yang pernah ada. Guru paling terkenal di seantero negeri.

Tapi bukan hanya guru terhebat itu yang paling menarik perhatian. Hal yang tidak kalah menariknya ada di bangku ke sembilan dari depan baris kedelapan. Ini sesuatu yang mengejutkan. Utusan yang telah lama naik ke langit ternyata kembali ke bumi untuk menghadiri kelas dari guru paling terkenal seantero negeri itu.

“Tuhan kita semua,” Guru itu pun mulai menjelaskan, “Telah meminta kita melakukan hal-hal yang akan kusebutkan pada kalian. Jadi dengarlah baik-baik.”

Semua orang mendengarkan dengan saksama. Hari ini ada banyak pelajaran yang harus dicatat. Bahkan sang utusan di baris ke sembilan harus mencatat banyak. Ada banyak perintah Tuhan yang baru dia dengarkan di kelas guru terkenal itu.

Guru itu pun terus menjelaskan dengan hebatnya. Dia mengatakan banyak hal dengan mengatas namakan Tuhan. Sepuluh menit sebelum berakhir, utusan mengangkat tangan untuk menanyakan beberapa hal dia tidak mengerti. Dan tentu saja, guru itu menjawab dengan tuntas pertanyaan sang utusan.

Di akhir pelajaran, semua orang pun akhirnya mengetahui seberapa hebatnya ilmu sang guru. Utusan pun bahkan mendapati dirinya termangu di tengah murid-murid lainnya.

“Anak-anakku telah melampauiku,” sang utusan berkata lirih, barangkali dengan sedikit kebanggaan, “Mereka telah menjelaskan isi kitab yang diturunkan kepadaku lebih baik dari diriku sendiri. Mereka bahkan telah menyampaikan hal-hal yang tidak pernah di wahyukan kepadaku.”

“Barangkali, “ sang utusan bersiap kembali ke langit. “Memang lebih baik jika aku tidak lagi berada di tengah-tengah mereka.”

Di periode pertama, sekalipun di katakan merupakan salah satu periode terbaik dalam sejarah keberagamaan kami, tetap saja ditemukan beberapa pembangkangan terhadap Tuhan dan agamaNya. Mudah menerima ide tentang keberadaan Tuhan tapi cukup sulit untuk menafasirkan keinginan Tuhan. Dan masalahnya, jika hal ini tidak ditangani dengan benar, ide tentang Tuhan bisa jadi hanya tinggal akan sejarah.

Salah satu penyebab penting mengapa ide tentang Tuhan bisa dihalau adalah bahwa beberapa orang berusaha menali Tuhan menurut kepentingannya sendiri. Mereka bermaksud memasukkan Tuhan dalam penjara besi. Ini tentu saja kesalahan fatal, mereka tidak bisa melakukan apapun terhadap Tuhan. Dan pada akhirnya, mereka hanya akan mengundang kembali kesedihan dan kedukaan yang sebelumnya telah mereka usir dengan agama.

Ketika dikatakan beberapa orang berusaha memenjara Tuhan, seseorang di akhir periode pertama akan memberikan contohnya.

“Aku masih tidak mengerti tentang konsep kurban dan sedekah. Ini benar-benar sesuatu yang tidak bisa kucerna. Mengapa kita harus menyerahkan sebagian dari usaha kita untuk binatang buruan dan predator sialan itu? Ini benar-benar konyol.”

“Iya,” seseorang yang bertubuh gempal ikut mengomentari. “Kalau pun kita punya sisa makanan mengapa tidak kita simpan saja untuk hari-hari berikutnya?”
“Apa Tuhan benar-benar memerintahkan seperti itu? Atau itu hanya dari pendapat pribadi sang utusan?”

Orang yang pertama kali bicara mulai meragu dengan utusan. Tapi orang kedua akan langsung mengarahkan telunjukknya pada Yang Mengutus.

“Sebenarnya Tuhan berada di pihak siapa? Sebenarnya aturan-aturannya di buat untuk siapa? Mengapa sebagian dari agamanya dibiarkan gelap atas kita?”

Tuhan menjadi sesuatu yang diperebutkan. Semua orang berharap Tuhan berada di sisinya. Dan ketika ada peraturan yang terasa tidak menguntungkan, mereka akan merajuk seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen.

Rabu, 05 Maret 2014

TERSESAT


tiga tahun yang lalu, di pagi hari ketika aku ke sekolah, aku bertemu denganmu..
dua tahun setelahnya, kita bersama..
Padaku, kau bilang,
"selamat, anda tersesat,"

dua puluh satu tahun yang lalu, mereka berdua tak menemukan jalan pulang..
sekarang, mereka dalam bahagia..
salah satu dari mereka..
kupikir telah tersesat pada yang lainnya..

tiga minggu yang lalu, temanku dan temanmu berkenalan,
besok, mereka akan menikah..
dua orang itu..
tidak lagi menemukan jalan untuk kembali berpisah..

kau,..
aku..
dia..
mereka..
kita semua..
barangkali hanya sedang tersesat..

tapi tersesat kadangkala bisa menyenangkan, bukan??

sekarang,
padamu kupikir aku benar-benar tersesat..
tak bisa menemukan jalan pulang..

kelak jika aku punya sedikit keberanian untuk melihat masa depan..
kekuatan untuk melindungimu...
kemauan untuk belajar hal-hal yang baru..
tekad untuk bekerja keras..
rela berpeluh..
keberanian untuk jatuh..

Maukah kau tersesat bersamaku?


****
Terinspirasi dari cerpen Maggie Tjoakin dengan judul
"Selamat, Anda Tersesat."


Selasa, 04 Maret 2014

TELINGA


Cukup jauh di negeri bersalju

Seseorang bermantel  besar, pada anaknya yang berumur  12  tahun, terlihat berdebat. Mereka di  depan rumah. Di dekat mobil. Anak itu memaksakan sesuatu yang ayahnya tidak suka.

“Kembalilah atau kutendang bokongmu.”

“Aku hanya ingin ikut bersamamu. Melihat-lihat bersamamu. Apa masalahnya?

Ayahnya mendengus. Merenggengkan kedua tangannya lalu menoleh kesembarang arah.

“Dengar,” dia mendekat lalu memegang pundak anaknya “Disana ada banyak hal yang tidak ingin kau lihat. Sesuatu yang bisa membuatmu jijik. Kau akan menyesal jika memilih ikut.”

Anak itu lalu menatap ayahnya tanpa berkedip. ”Biarkan saya ikut. Biarkan aku membuktikan bahwa semua pendapatmu tentangku salah. ”jawabnya dengan wajah tanpa ekspresi.

“Sial. Dasar keras kepala. ”Ayahnya seperti sudah kehabisan akal. ”Kembalilah atau kutendang bokongmu.” Ayahnya lalu membalikkan tubuh anaknya menghadap mobil. Bocah itu lalu meronta-meronta ingin melepaskan diri.

“Mengapa kau selalu membatasi pilihanku?” Ucap anak itu tersengal-sengal.” Pilihan tidak hanya dua hal itu. Ada pilihan lain. Aku memilih untuk ikut denganmu tanpa tendangan di bokong.” Anak itu kembali meronta-ronta. Dia menyikut perut ayahnya. Ayahnya meringis kesakitan. Bocah itu berhasil melepaskan diri.

Ayahnya kembali menyumpah-nyumpah. Mengatakan sesuatu yang bisa membuat anaknya tidak berpikir lagi untuk ikut dengannya. Tapi anaknya seperti tidak peduli .Sepertinya tidak ada alasan tepat  yang  bisa menghalanginya untuk ikut.

“Kau akan menjerit  di sana. Kau akan menangis. Di sana tidak ada hiburan. Disana hanya ada ketakutan. Jeritan kesakitan. Jeritan tangis.”

Ayahnya menatap anaknya lekat-lekat. Sekarang seperti memelas. Memohon untuk pergi sendirian.

“Baiklah.” Anak itu menjawab seperti menyerah. Dia seperti kasihan melihat usaha ayahnya. Ayahnya  pun mulai sedikit senang.

”Baiklah, kalau begitu biarkan aku ikut.”

Mendengar itu ayahnya terdiam. Dengan tajam dia memandang pada anaknya. Sesuatu  seperti  sengatan listrik bermain-main di kepalanya.

“Oh Tuhan. Apa yang salah dengan anak ini.” Ayahnya lalu mengangkat kedua tangan seperti berdoa. “Mengapa dia begitu keras kepala?” Lanjutnya sambil menendang salju di depannya. Dia benar-benar kesal.

“Keras kepala sepertimu  Johnson. Seperti keras kepalamu melarangku ikut, seperti itu pula keras  kepalaku untuk ikut. Aku ini anakmu. Yang mewarisi  gen keras kepalamu. Kau ingat?” Anak itu menjawab seolah-olah dirinya  yang menang. Dia lalu memperbaiki letak tutup kepalanya yang berwarna hitam.

Senin, 03 Maret 2014

KREDO 7 : LASCAUX



2 Desember 2013 pukul 20:40

Ada banyak agama di dunia ini, tapi jika kita mencari kesamaan kita bisa menemukan beberapa hal sebagai perbandingan. Pertama, semua agama mengajarkan tentang moralitas. Bahkan semua agama bertemu di satu sudut pandang, “Jangan melakukan apapun pada orang lain sesuatu yang tidak kalian suka jika itu dilakukan pada kalian.”

“Jadi apa artinya, jika aku melakukan sesuatu pada orang lain sesuatu yang tidak aku suka jika itu dilakukan padaku?” seorang anak bertanya pada ayahnya.

“Itu artinya,” Ayah tersebut memegang kepala anaknya. “Kau melanggar semua ajaran agama dan tidak mengikuti agama apapun.”

Selain moral, setiap agama juga mengajarkan ritual. Bedanya, ritual setiap agama bisa berbeda-beda. Tapi pada intinya semua mengajarkan untuk membangun hubungan sehat baik secara vertical maupun secara horizontal. Tapi bukan berarti kami mengatakan semua agama sama benarnya.

Orang di awal di periode yang hidup di periode berburu, di kirimkan kepada mereka utusan yang akan mengajari mereka ritual yang sesuai untuk kehidupan mereka. Mereka di ajarkan bagaimana mengormati alam juga binatang yang selama ini sering mereka berburu.

“Aku takut. Aku tidak bisa melakukannya. Tinggalkan saja aku di sini.” Seorang remaja bersiap untuk berlari ke belakang. Ini adalah kali pertamanya dia ikut berburu.

“Tapi kau anak laki-laki,” bentak ayahnya. “Busungkan dadamu bocah. Atau kau akan menunduk selamanya.”

Meskipun mereka hidup di fase berburu, tapi tidak semua orang bisa melakukannya. Mereka, masih terkadang tidak bisa mengendalikan rasa takut mereka.

Tapi jika mereka memegang teguh janji mereka pada utusan. Mereka akan diajari sesuatu yang bisa membuat mereka mengada dengan cara berbeda saat berburu. Mereka akan ditempa menjadi pemburu efektif lagi efisien. Lebih hebat lagi, mereka juga akan menjadi pemburu yang suci.

“Apa waktunya telah tiba?” seseorang remaja bertanya

Kepala suku mengangguk. “Beberapa langkah lagi kita akan sampai. Di sana kau akan melakukan ritualnya.

Remaja yang bertanya meneguk liurnya. Dia telah mendengar bahwa ritual yang akan mereka lakukan sangat ketat. Mental dan fisik harus benar-benar disiapkan.

Mereka terus berjalan sampai mereka menemukan gua. Tapi penampakan gua itu tidak seperti yang remaja itu pikirkan.

“Kupikir guanya luas.” Remaja itu kembali berkomentar. “Tapi ini sangat sempit. Ukuran gua ini tidak melewati leherku.”

“Begitu kamu masuk, apimu akan dimatikan.”

“Ha?” remaja itu terkejut. “Ini malam hari dan juga di dalam gua. Apakah kau berpikir ini benar-benar aman?”

“Kau terlalu banyak bicara bocah.” Komentar sang pemandu. “Mulai sekarang atau kau tidak akan pernah bisa melakukannya.”

Tidak ada pilihan lain. Remaja itu harus melawan rasa takutnya. Setelah menyerahkan apinya pada Pemandu, Dia pun melangkahkan kaki pertamanya di dalam gua.

Gua tempat dimana remaja itu akan memulai ritualnya adalah gua yang telah dirancang khusus. Tingginya tidak mencapai leher orang dewasa. Sementara di dindingnya dilumuri dengan darah binatang. Ada banyak lukisan di dinding itu. jika masuk di dalamnya kita bisa merasakan ukirannya saat menyentuh dinding.

Saat melewatinya, mereka yang sedang diinisiasi akan tersandung-tersandung beberapa kali sepuluh menit sebelum sampai di ujung lorong. Ada dua kegelapan yang menyelimuti gua itu. pertama, kegelapan malam. Kedua, kegelapan gua itu sendiri. Akibatnya, mereka yang berada di dalam akan kehilangan arah. Mereka tidak akan tahu mereka sedang menghadap kemana. Tapi jika kau percaya, insting akan membantumu bekerja.

Selain itu, sementara remaja itu berjalan dalam kegelapan, mereka akan mendengar berbagai bebunyian aneh. Tulang-tulang yang dilemparkan, longlongan serigala, dan berbagai macam bebunyian mengerikan lainnya. Hal ini tentu saja menakutkan. Tapi di satu sisi, bebunyian itu akan memaksa mereka untuk terus bergerak, mendesak mereka untuk segera menemukan jalan keluar. Ketakutan, jika dibenar gunakan, bisa bermanfaat bagi mereka yang memilikinya.

Setelah berjalan hampir dua puluh menit, remaja yang mengikuti prosesi ritual akhirnya sampai di ujung lorong. Dan disana remaja tersebut akhirnya sampai di gua yang sebenarnya. Di sana remaja tersebut akan mengalami penebusan. Tapi semuanya belum berakhir. Ketika nafasnya belum teratur. Ketika keringatnya belum kering, mereka tiba-tiba akan mendapatkan tatapan yang bisa meluluh lantahkan perasaannya.

Sesosok makhluk hybrid, setengah manusia, setengah binatang, dalam ukiran yang sangat besar, menanti di dalam gua dengan tatapan yang sangat tajam. Ini benar-benar mengguncang secara psikologis. Tapi jika mampu ditangani dengan benar, hal ini akan menjadi kekuatan. Jika inisiasi berhasil, remaja itu tidak akan lagi mengalami ketakutan saat menghadapi buruannya. Remaja itu telah mengalami sesuatu yang trasenden. Dia, telah berhasil mengalahkan ketakutannya.

Seperti itu salah satu ritual yang orang awal periode lakukan. Sebenarnya ritual ini tidak diajarkan oleh utusan tapi utusan juga tidak mencegah mereka dari melakukanya. Lagipula ritual itu benar-benar efektik untuk orang awal periode agar bisa mengatasi ketakutan mereka.

“Kami tidak menyembah Mahluk hybrid itu. itu hanyalah proses inisiasi. Kami tetap menyembah TUhan yang Esa, yang maha perkasa, yang maha bijaksana. “ Komentar putri kepala suku ketika salah seorang mempertanyakan keabasahan yang mereka lakukan.

“Apapun yang kami lakukan pada binatang itu, kami tidak melakukan penyembahan terhadapnya.” Seru yang lain.

Sekali lagi, orang diperiode awal sekalipun ritual mereka banyak melibatkan symbol binatang mereka tidaklah menyembah binatang tersebut.

Orang di awal periode pada dasarnya seringkali mengalami kekacauan internal. Mereka sering bertanya mengapa untuk hidup kita mesti mengorbankan hidup yang lain. Ini semacam hukum rimba dimana yang kuat akan memangsa yang lemah. Mereka yang sering berburu menyadari benar hal ini.

Saat berburu mereka harus membunuh buruan mereka. Tapi adakalanya juga para pemburu itu yang akan menduduki tempat sebagai buruan. Mereka telah mengerti dua sudut pandang yang berbeda saat menjali hidup mereka. Saat mereka mencoba menghilangkan kehidupan makhluk lain mereka hanya sedang mencoba bertahan hidup. Saat giliran mereka yang menjadi buruan, mereka pun mengerti pemangsa mereka hanya sedang berusaha bertahan hidup.

JIka ada cara lain, mungkin mereka tidak akan melakukan perburuan untuk menghilangkah hidup makhluk lain. Tapi itu adalah hukum yang berlaku di dunia ini. Untuk terus hidup mereka harus terus melakukan perburuan tersebut.

Untuk mengatasi kegelisahan mereka, mereka pun memutuskan untuk melakukan penghormatan sebagai wujud terima kasih mereka pada buruan yang telah menjadi martir untuk kehidupan mereka. Telah ditetapkan atas buruan mereka bahwa buruan itu akan menjadi penentu kelangsungan hidup mereka. Itulah mengapa mereka banyak melibatkan symbol binatang dalam ritual mereka.

“Aku sering diburu oleh predator yang lebih kuat. Saat berada di posisi pemburu, aku seringkali merasa gundah saat menangkap buruan kita. Tidakkah kau merasa kita harus melakukan sesuatu untuk mereka?”

Dari pertanyaan seperti inilah lahir serangkaian ritual-ritual tertentu. Dan saat utusan datang, ritual ini akan disempurnakan.

Beberapa aturan yang harus mereka ikuti antara lain adalah, mereka harus menahan diri dari perbuatan seks sebelum berburu. Ini bentuk penghormatan. Sama halnya saat mereka membunuh buruan, mereka diwajibkan melakukannya dengan menyebut nama Tuhan.

“Dengan Menyebut Nama Tuhan yang maha Pemurah kami melakukan ini.” Ucap kepala Suku sebelum mengeksekusi buruannya.

Selain itu agar buruan mereka tidak terlalu menderita menjelang kematian, mereka diharuskan menggunakan alat yang benar tajam dan racun yang mempercepat kematian. Mereka tidak boleh menyiksa buruan mereka.

Untuk bagian yang tidak mereka makan, harus mereka kembalikan ke tanah, tempat dimana semua makhluk berasal.

Aturan lainnya yang harus mereka ikut adalah, mereka tidak boleh berlebih-le bihan dalam makan. Tidak boleh ada makanan yang harus terbuang tersisa. Buruan itu sudah ditetapkan untuk menjadi makanan mereka jadi ketika mereka menyia-nyiakannya itu sama saja dengan tidak menghormati mereka. Dari sini, mereka akan diajari tentang cara pengawetan makanan oleh utusan.

Hal selanjutnya yang mereka patuhi adalah mereka harus berkurban.

“Setiap kalian mendapatkan makanan yang melimpah kalian harus mengorbankan sebagian dari yang kalian ingin makan.” Seru sang utusan.

“Bawalah beberapa buah-buahan dan daging yang kalian peroleh ke puncak gunung. Biarkan sesuatu yang kalian buru dan yang pernah memburu kalian memakan sebagian dari usaha kalian. Ini penting untuk menjaga keseimbangan alam.”

“Baguslah, aku punya sisa makan yang tidak ingin aku makan. “ komentar orang yang bertubuh gempal. 
“Aku akan membawa makanan yang tidak ingin aku makan di puncak gunung sebagai korbanku.”

“Kalian harus mengorbankan makanan yang baik. Kurbankan makanan yang ingin kalian makan.” Lanjut sang utusan. “bagaimana mungkin kalian memberikan makanan kepada yang lain sesuatu yang kalian sendiri tidak ingin makan?”

“Heh.” Orang bertubuh gempat terlihat kaget. Makanannya yang segar telah dihabisi.

Sang utusan tersenyum melihatnya.

“JIka korban kalian diterima, di hari selanjutnya, makanan yang kalian kurbankan akan habis dimakan oleh binatang di atas sana. Tapi jika tidak diterima. Kurban kalian akan membusuk di atas sana.”

Inti ajaran di awal periode adalah ketakterpisahan antara alam, manusia, binatang,dan tumbuhan. Semuanya adalah satu padu. Meski semuanya tampak bertentangan tapi sebenarnya semuanya terhubung dan mendukung antara kehidupan yang satu dengan yang lainnya.

Makhluk hybrid yang mereka temukan di gua datang untuk tujuan seperti ini. Makhluk hybrid itu bukan untuk disembah. Tujuannya adalah agar mereka menjadi pemburu suci. Itu agar mereka tidak memperlakukan buruan mereka semena-mena. Menyadari ketidakterpisahan antara diri mereka dengan buruan mereka akan membuat mereka bertindak dengan cara yang suci saat memperlakukan buruan mereka.

Akan tetapi tidak semua orang di awal periode bisa mengerti makna dari ritual-ritual. Dan ritual kurban adalah ritual yang paling banyak menjadi sorotan. Ini merupakan bentuk pembangkangan pertama terhadap agama.

“Kita telah berusaha keras untuk mendapatkan makanan ini. Kita menghadapi bahaya. Lalu mengapa sekarang kita harus mengorbankannya untuk binatang lain?”

“Aku mengerti jika makanan itu dijadikan umpan untuk buruan kita. Tapi mengapa kita juga harus mengurbankan sesuatu untuk predator yang biasa memburu kita?”

Pembangkangan pertama pun mulai muncul. Pertanyaan yang meragukan pun mulai diterbitkan. Tidak jauh di masa depan, sebatang pohon yang memiliki buah berbahaya akan segera turun ke bumi.

PEKAT


19 Januari 2012 pukul 9:32

malam menggempurmu menuju siang..

lewat serdadu pekatnya..

lalu tentara sepi..

beserta laskar buta..


kau tahu..

bahkan hitam pun menyiksa..

sementara putih belum juga bisa menali..


lantas pada pekat...

apa yang menahanmu untuk membiasakan diri??

mengajari bercinta dengan sepi??

lalu menuntun dalam hitamnya mata diwaktu buta??


bahkan hitam pun menyiksa..

sementara putih belum juga bisa menali..


bahkan hitam pun tidak menginginkan..

siksanya…

tak pernah berhenti…

menggempurmu menuju siang..