Label

Selasa, 25 November 2014

BELAJAR DRAMATURGI DARI HARUKI MURAKAMI


Apabila sepucuk pistol muncul dalam suatu cerita, pistol itu harus ditembakkan.”
(Anton Chekov)

Ini tentu saja bisa mereduksi apa yang dijelaskan oleh Murakami. Apalagi dalam sebuah cerita, menafsirkan makna dibalik penanda bisa jadi justru membunuh pengarang itu sendiri. Akan tetapi, karena saya sudah terlanjur membacanya dan mencoba memahaminya, saya merasa harus mengambil peran untuk menjelaskan apa yang saya pahami.

Terlepas dari sesuai tidaknya yang saya pahami dengan Murakami maksudkan, penulis novel Kafka on the Shore itu telah meletakkan sepucuk pistol dalam kepala saya. Jadi harus menembakkannya. Bahkan mungkin saya tidak benar-benar tahu apakah peluru itu akan meledakkan kepala seseorang yang sedang membaca buku, atau mungkin orang yang sedang menonton TV. Intinya saya harus menembakkan pistol dalam kepala saya. Melalui peluru, yang bernama kata-kata, tentunya.

Tapi sebelum membahas dramaturgi yang dibahasakan oleh Murakami dalam novel Kafka on the Shore, alangkah baiknya kita membahas dulu konsep Dramaturgi yang diperkenalkan oleh Aristoteles dan Erving Goffman.


-Dramaturgi ; Sebuah Seni dalam Berkomunikasi

Dramaturgi pada mulanya, adalah sebuah istilah yang diperkenalkan Aristoteles. Di masa hidupnya, Aristoteles menyisihkan waktunya untuk mempelajari drama-drama Yunani baik yang dalam bentuk tragedi ataupun komedi. Dalam bukunya Poetics, Aristoteles menuliskan bagaimana dia menganalisa drama secara keseluruhan. Baik dari segi naskah, sampai kehubungan antara karakter dan acting, plot, dialog dan cerita. Aristotles menjelaskan bagaimana bagusnya sebuah cerita dan bagaimana pengaruhnya terhadap reaksi penonton terhadap drama.

arts.rice.edu
komedi dan tragediarts.rice.edu komedi dan tragedi

Selasa, 18 November 2014

PSHYCHO-PASS 2 REVIEW : WHAT COLOR? PENEGAK YANG PEMBUNUH


            Saat inspekstur perempuan itu terbangun, keadaan tidak lagi berada dalam kendalinya. Kedua tangannya terikat, sementara tubuhnya, dia dapati dalam keadaan telanjang. Di depannya, sekitar sebelas orang yang ketakutan - yang juga dalam keadaan telanjang - , berbaris rapi menghadap ke pintu gedung yang tertutup.  

            Pemegang kendali atas keadaan ini, tentu saja lelaki paruh baya yang berjalan arogan dengan tongkat ditangannya. Lelaki paruh baya yang membenci system, lalu menularkan kebenciannya dengan memprofokasi masyarakat agar bertindak tidak lagi patuh seperti manusia hidup yang mati.

            Setelah mempelajari situasi – termasuk setelah melihat bagaimana seorang tawanan dibenturkan kepalanya ke lantai dengan menggunakan sepatu yang terpasang di kaki - inspektur perempuan itu pun melepas pengikat ditangannya. Naluri keadilannya pun segera membuatnya bergerak cepat. Dengan cekatan, dia mengambil senjatanya dari drone. Lalu dengan posisi siap tempur, dia mengarahkan dominator (senjata yang bisa mengecek tingkat stess) kepada lelaki paruh baya itu. Akan tetapi, sayang sekali, meski telah membunuh sedemikian kejamnya, psikologi lelaki paruh baya  itu ternyata tetap bersih. Pelatuk senjatanya pun terkunci. Dominator tidak bisa mengadili orang dengan warna psikologi yang cerah.



            Kaget, penegak itu kehilangan kendali. Lelaki paruh baya itu melepaskan tendangan yang membuat inspektur perempuan itu terlempar dan menabrak kaca. Para sandera kembali berteriak histeris. Darah segar mengucur dari kepala inspektur tersebut.

Selasa, 11 November 2014

BERKENALAN DENGAN KONSEP KEADILAN


Sekelompok kambing yang lepas dari pengawasan, merusak tanaman di malam  hari. Pemilik tanaman yang merasa dirugikan, mengadukan pemilik ternak atas kelalaian tersebut pada Raja. Bagaimana memutuskan permasalahan ini dengan adil?

Sang Raja dengan segala kebijaksanaanya, memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan kepada pemilik ternak sebagai ganti tanaman yang rusak. Pemilik tanaman yang merasa diuntungkan, pun menilai keputusan Raja tersebut sudah adil. Tapi bagaimana dengan pemilik ternak?

Anak Raja, yang juga hadir mendengarkan permasalah tersebut, ternyata memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, pemilik kambing tersebut tidak harus menyerahkan ternaknya. Pemilik ternak itu menyerahkan kambingnya, tapi hanya sementara. Di satu sisi, pemilik kambing harus mengganti tanaman itu dengan tanaman yang baru. Apabila tanaman yang baru telah dapat diambil hasilnya, orang yang mempunyai kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali.1

Mendengar pendapat anak Raja, pemilik ternak dan pemilik kambing, merasa senang. Tapi meskipun keduanya merasa tidak senang, Sang Raja tetap akan memutuskan bahwa bahwa penilaian anak Rajalah keputusan yang paling adil. Maka keputusan itulah yang diambil.

Kurang lebih, seperti itu keputusan keadilan diambil masa lalu.

Lalu sedikit jauh di masa depan, pengambilan keputusan akan keadilan dilakukan seperti memilih mana yang paling tepat antara menyelamatkan cacing dari ancaman elang, atau menyelamatkan elang dari ancaman kelaparan.

Senin, 03 November 2014

PARA PENYAIR

Maukah Aku beritakan kepadamu kepada siapa setan-setan itu turun?..
Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa..
Mereka menyampaikan hasil pendengaran mereka sedangkan kebanyakan mereka
orang-orang pendusta..

Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat..

TIdakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah?..
dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya?..

Sabtu, 01 November 2014

NARUTO REVIEW : SAVE THE WORLD KILL THE WORLD


LAPORAN DINAS DEPARTEMEN INVESTIGASI JS
Tanggal : 2 November 2014
Judul : Laporan Mengenai Konsep “SAVE THE WORLD KILL THE WORLD”,
Dokumen Nomor : SDGYX-299-368914-31129-WWS

                Berikut rekaman hasil wawancara dengan Engka Silasa (19), seorang mahasiswa  asal Kota [nama dihapus] dari Negara [nama di hapus] yang direncanakan akan mengadopsi konsep “Save The World Kill The World”. Wawancara berlangsung lebih dari satu jam di Kafe [nama dihapus] sejam setelah konsep “Save The World Kill The World” di umumkan di televisi setempat. Hal-hal yang berhubungan dengan wawancara tersebut bisa diperoleh dengan mengajukan permohonan nomor SDGYX-299-DF-143 sampai 155.

Kesan yang diperolah oleh pewawancara, Kafka Tamura : Engka Silasa cukup percaya diri dengan idenya dan memiliki kemampuan yang cukup untuk menganalisis permasalahan. Dia adalah tipe yang menghabiskan waktu senggangnya dengan membaca buku fiksi ataupun non fiksi jika tidak sedang berselancar di dunia maya. Dia cukup tenang tapi tidak ingin melewatkan satu topik pembicaraan sampai dia yakin lawan bicaranya mengerti maksudnya. Namun dalam beberapa pembahasan, dia seringkali tidak ingin kalah bicara dengan melakukan berbagai mekanisme pertahanan diri dan berbagai trik intelektual untuk mengalihkan perhatian. Beberapa gagasan yang dia katakan, dia dapatkan dari interpretasinya dari bacaan fiksi. Seni mencocok-cocokkan teori Engka Silasa bisa dilihat mulai pada pertanyaan ke lima dari laporan ini.



Mengenai Konsep Perdamaian Dunia, kebetulan sekali, beberapa hari yang lalu saya sempat memikirkan sesuatu yang saya rasa berhubungan dengan konsep tersebut. Meski demikian, bukan berarti saya telah mengetahui tentang pencanangan konsep “Save The World Kill The World” sebelumnya. Saya bahkan bertanya-tanya bagaimana kota ini akan mengadopsi konsep-yang lagi-lagi-yang harus dipinjam dari negara yang menjuluki kami “negara dunia ketiga”, “negara sedang berkembang”, dan berbagai julukan lagi yang membuat kami selalu merasa rendah diri jika berhadapan dengan mereka.

Kami selalu curiga dengan konsep yang ditawarkan oleh negara yang menyebut kami negara terbelakang. Karena sebagaimana kita tahu, tidak ada makan siang yang gratis, selalu ada udang dibalik batu. Tidak ada pengetahuan tanpa kuasa. Tidak ada kuasa tanpa pengetahuan. Bagaimana kami tahu kalau ide yang mereka tawarkan di kepala kami bukan tali kekang yang terhubung dengan tangan dan kemaluan mereka?

Sabtu, 04 Oktober 2014

LEBARAN DI HARI APAKAH KAMU?

 
Sewaktu orang berdebat dipermasalahan dalil naqli tentang penentuan tanggal 10 dzulhijjah, setiap orang punya landasan masing-masing. Akan tetapi mengenai bergantinya siang dan malam, di sana juga ada tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (aqli). Beberapa orang mungkin berpikir kalau hal ini hanya berhubungan dengan persoalan agama atau naqli semata, tapi kita juga tidak harus menutup mata kalau persoalan ini juga berhubungan dengan permasalah sains. (Yang berpikir agama ya agama, sains ya sains, barangkali tidak akan menerima.)

Lupakan sejenak kita berada di pihak yang mana. Saya sendiri berencana untuk lebaran tanggal 5 oktober tapi tulisan ini sepertinya  akan lebih menguntungkan ke pihak yang lebaran pada tanggal 4 oktober (aneh sekali, bukankah itu justru berpihak?)

Jadi, sudah berpihak pada kebenarankah pendapat berikut?

Matahari masih Terbit dari Timur, bukan?

Matahari, sebagaimana yang kita ketahui, masih terbit dari timur. Nanti sekitar pukul 18.00, barulah dia akan terbenam di barat, yang sekaligus menandai datangnya hari baru dalam Islam. Karena hukum ini masih berlaku, maka seharusnya, Indonesia yang ada di timur, akan lebih dulu memasuki pergantian hari dibandingkan Arab Saudi. Maksudnya, jika 1 jam kemudian Indonesia (WITA) memasuki tanggal 9 dzulhijjah,  Arab Saudi baru akan memasuki tanggal 9 Dzulhijjah 5 jam kemudian. Sekarang WITA sudah pukul 10 pagi, tapi Arab Saudi baru pukul 5 pagi.

Kamis, 02 Oktober 2014

BERKENALAN DENGAN KESADARAN KRITIS PAULO FREIRE



                Sewaktu nilai sekolahnya berantakan, Ka merasa itu pasti karena dosa-dosanya di masa lalu. Kebohongan dan kelicikannya, ibadahnya yang kurang, juga kata-kata kasarnya di depan pintu sebelum ke sekolah, pasti penyebab anjloknya prestasinya belajar semester ini. Di semester berikutnya, Ka pun berjanji tidak akan menambah dosa-dosanya lagi.

                Sementara Ka sibuk menghitung dosa-dosanya, Fe sedikit lebih tua dari Ka, sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Menurutnya, tidak masalah jika dia harus begadang sampai pukul 2 pagi agar nilainya lebih baik. Salahnya dia tidak melakukannya. Seharusnya dia tidak perlu memikirkan bagaimana kondisi keuangan keluarga di kampung. Bukankah ibu sering bilang, ”urus saja sekolahmu, biayamu biar kami yang urus?” Fe sibuk menyalahkan kebodohannya. Sebenarnya dia kesulitan mencerna pelajaran di sekolah yang seringkali dia rasa tidak berguna di kehidupan sehari-harinya, tapi itu pasti bukan kesalahan siapapun. Itu kesalahannya sendiri. Toh, teman-temannya yang lain bisa mengatasi pelajaran-pelajaran yang berguna untuk meloloskan mereka saat ujian kenaikan kelas?

                Tapi jika Fe terus menyalahkan diri sendiri, De pasti akan merasa kesal. De tidak suka dengan penyalahan diri Fe  karena menurutnya, sistem pendidikanlah yang amburadul. Guru-guru yang berprinsip, “mengajar tidak mengajar tetap dapat gaji”, kurikulum sekolah yang tidak mendekatkan pada masyarakat, tugas-tugas yang mengekang, system perengkingan, belum semua dari bagian system pendidikan yang sering De salahkan. Menurut De, memaksakan dirimu sendiri menyesuaikan diri dengan semua hal itu adalah kegilaan. Mengekang dirimu sendiri, dan akan memasukkanmu dalam hegemoni raksasa yang membuatmu sulit melepaskan diri jika tidak setengah mati kau berusaha. Pikiranmu, seleramu, defenisimu, akan menjadi seragam. Akibatnya, bukan telingamu yang mendengar ketika kau mendengar, bukan matamu yang melihat ketika kau melihatmu, bahkan bukan pikiranmu yang berpikir ketika kau berpikir. Kau akan berpikir bebas, tapi semua pilihanmu telah berada dalam genggaman. “Kau,” De menunjuk ke hidung Fe. “Akan terjebak dalam sesuatu yang disebut rekaya sosial.”

aryginanjar.com