Label

Senin, 06 Juli 2015

MENYI(NG)KAP(I) “ENGKA” DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI




Musappa anu degaga e, Mualupai anu engka e
“Kau mencari sesuatu yang tidak ada, tapi melupakan sesuatu yang jelas-jelas ada”
Pepatah Bugis

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...

                Sebenarnya, tidak mudah memaknai kata engka ( huruf “e” dibaca seperti pada elang) dan degaga dalam pepatah bugis di atas. Jika kita benar-benar memperhatikannya, menerjemahkan pepatah tersebut dengan kalimat di atas, akan terkesan menyederhanakan. Kita menerjemahkan kata degaga dengan kata “tidak ada” sementara kata engka dengan kata “ada”, seolah kedua kata tersebut memiliki akar kata yang sama di mana salah satunya hanya mendapatkan penambahan kata negasi de atau “tidak”.

                Dalam bahasa sehari-hari, engka memang berarti “ada”. Jika kita mengatakan; “Engka i la Silasa di laleng,” itu berarti “Silasa ada di dalam”. Sementara itu, aga yang menjadi akar kata dari degaga berarti “apa” di dalam bahasa Indonesia. Aga ta carita?  Berarti, “apa yang Anda ceritakan.” Aga kareba? berarti “apa kabar?” Aganna ma solang? berarti “apanya yang rusak?” Jadi dalam pepatah di atas, jika kita mengartikannya secara harfiah, dalam bahasa Indonesia bisa berarti, “kau mencari sesuatu yang tidak memiliki ke-apa-an tapi melupakan sesuatu yang jelas ada”. Atau jika kita menggunakan istilah filsafat maka akan berarti, “kau mencari sesuatu yang tidak memiliki esensi (ke-apa-an), tapi melupakan sesuatu yang telah eksis (ada).
      
          Untuk melihat lebih jauh bagaimana penggunaan kata engka dalam kehidupan sehari-hari, kita juga bisa mencobanya pada percakapan lain. Misalnya jika seseorang bertanya, “Engkai ga Silasa di laleng (Apakah Silasa ada di dalam)?” Jika Silasa tidak ada maka jawabannya adalah, “degagai Silasa di laleng (Silasa tidak ada di dalam).” Jika kita memperhatikannya dengan benar, sewaktu kita mengajukan pertanyaan tentang ke-ada-an kita justru mendapatkan jawaban tentang seputar ke-apa-aan. Jika kita mengartikannya dalam, percakapan tersebut bisa berarti seperti berikut:

                “Apakah Silasa ada di dalam?”

                Jika Silasa tidak ada di dalam maka jawabannya adalah, “Ke-apa-an Silasa tidak ada di dalam sini.”

                Apa yang bisa kita tarik dalam kenyataan tersebut? Dalam bahasa bugis kami tidak melekatkan kata “tidak ada” pada sesuatu sekalipun sesuatu itu telah menghilang. Kalaupun sesuatu itu menghilang atau tidak ada di tempat, cukuplah bagi kami untuk mengatakan bahwa “ke-apa-an” sesuatu sedang tidak hadir, bukan “tidak ada”.

Engka dalam bahasa kami adalah sebuah keadaan yang tidak bisa dicabut dari segala sesuatu yang ada. Sekali sesuatu itu sudah engka maka dia tidak akan pernah menjadi tidak engka. Sekalipun nanti sesuatu itu menghilang maka sesuatu itu tetap engka. Kami tidak pernah melekatkan kata engka pada sesuatu yang “tidak ada”. Kalaupun kami melekatkan kata “tidak engka atau de na engka” pada sesuatu maka itu berarti sesuatu itu pun pernah bersinggungan dengan waktu. Kata “de na engka” dalam bahasa kami juga biasa kami gunakan untuk menunjuk sesuatu sesuatu yang tidak pernah mewaktu/ tidak pernah ada dalam sejarah.

                Meski demikian, engka selalu terbuka untuk masa depan. Sesuatu bisa saja dianggap tidak engka di masa lalu tapi di masa depan engka selalu bisa membuka diri. “engka matu sewa esso...,” atau “nanti akan ada suatu masa...” Singkatnya, dalam dunia yang tidak sempurna ini, dalam dunia materi ini, engka tidak pernah berkurang tapi kemungkinannya hanya akan selalu bertambah. Tapi dari manakah datangnya penambahan engka ini? ini bukan pertanyaan yang ingin dijawab dalam tulisan ini.

                Selanjutnya “aga” atau “degaga”. Begitu sesuatu itu punya engka maka sesuatu itu pun pasti punya aga. Hanya saja jika “engka-nya” seseorang akan selalu ada, “aga-nya” seseorang bisa menghilang. Jadi, sekali kau engka kau akan terus disebut engka, kalaupun kau menghilang kau hanya akan dianggap degaga bukan tidak engka.

Desain sampul dari Ahmad Syakir

Sabtu, 09 Mei 2015

BERKENALAN DENGAN KONSEP PARADIGMA


Dalam ilmu sosial, ada sebuah istilah yang seringkali dimiripkan dengan perpektif, yakni paradigma. Beberapa ahli – seperti Deddy Mulyana dalam bukunya Metode Penelitian Kualitatif - cenderung menganggap kalau perpsepktif sama halnya dengan paradigma. Sementara Denzin dan Lincoln dalam bukunya Handbook of Qualitatife Research, beranggapan kalau sekalipun perpsektif bisa memiliki banyak elemen seperti paradigma, paradigma tetap saja memiliki cakupan yang lebih luas jika dibandingkan dengan istilah perspektif. Akan tetapi, Denzin dan Lincoln tidak menjelaskan lebih jauh cakupan luas seperti apa yang dimaksudkannya dimiliki “paradigma”, tapi tidak dimiliki oleh “perpspektif”.

            Istilah paradigma sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Khun, dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution. Ketika Khun menjelaskan istilah paradigma, hal tersebut dikaitkannya dengan istilah “sains yang normal” sebuah istilah yang diartikannya sebagai; “riset yang dengan teguh berdasar atas satu atau lebih pencapaian ilmiah yang lalu, pencapaian yang oleh masyarakat ilmiah tertentu pada suatu ketika dinyatakan sebagai fundasi bagi praktek selanjutnya”. Hal tersebut dilakukannya dengan tujuan  mengemukakan bahwa beberapa contoh praktek ilmiah nyata yang diterima – contoh-contoh yang bersama-sama mencakup dalil, teori, penerapan, dan instrumentasi – menyajikan model-model yang daripadanya lahir tradisi-tradisi padu tertentu dari riset ilmiah.
         
   Akan tetapi, dalam buku Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Ritzer (1980) berpendapat bahwa penjelasan Khun tersebut dianggap tidak mendefinisikan paradigma secara memuaskan. Akibatnya, “istilah paradigma bermakna kontrofersial dalam buku itu sendiri sehingga bisa ditafsirkan dalam banyak makna” (Mulyana, 2008: 9). Ketika istilah tersebut kemudian di adopsi ke ilmu sosial, istilah paradigma tersebut diartikan lebih banyak lagi oleh para ahli sosial. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada batas yang jelas dalam definisi tentang paradigma. Kita masih tetap bisa mengambil kesimpulan dari definisi paradigma dari beberapa ahli setelah mengontekskannya pada pembahasan tertentu.

Kamis, 23 April 2015

BERKENALAN DENGAN TEORI INTERAKSI SIMBOLIK



            Interaksi simbolik merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Blummer tahun 1937 melalui tulisan-tulisannya yang dipengaruhi oleh pemikiran Jhon Dewey, William I. Thomas, dan Charless H. Cooley. Dalam ilmu sosial, perpspektif interaksi simbolik sering dianggap berada di bawah perspektif interpretif atau perspektif fenomonologis. Istilah fenomonologis itu sendiri bisa berarti pandangan ilmu pengetahuan yang menganggap kesadaran manusia dan makna subjektifnya sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial (Natanson dalam Mulyana 2008; 59). Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, teori interaksi simbolik memiliki pengikut dan metodenya sendiri. Jika fenomologi menekankan upaya untuk “memahami”, interaksi simbolik menekankan pada upaya “penafsiran” atas pemaknaan yang dihasilkan dalam interaksi (Leksono 2013:255).

Mendefinisikan Teori Interaksi Simbolik

            Berbeda dengan teori fungsionalisme Talcott Parsons yang lebih menekankan struktur yang membentuk interaksi masyararakat, interaksi simbolik justru menganggap kalau perilaku manusialah yang merupakan faktor terpenting yang membentuk interaksi tersebut. Proses tersebut terbentuk dari realitas sosial yang bersifat intersubjektif. Intersubjektif adalah terma yang bermakna anggota masyarakat membagi dan menginternalisasikan pemahaman mereka tentang dunia melaui sosialiasi dan memungkinkan mereka melakukan interaksi atau komunikasi. Dengan kata lain, dalam upaya memahami realitas sosial, interaksi simbolik akan menekankan fokus penelitiannya pada subjek alih-alih struktur masyarakat.

            Menurut interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Oleh karena itu, penganut teori ini akan berupaya memahami bagaimana simbol terbentuk, makna dalam simbol, dan bagaimana simbol itu memberikan pengaruh dalam interaksi sosial. Simbol itu sendiri didefinisikan sebagai suatu rangsangan yang mengandung makna dan nilai yang dipelajari bagi manusia, dan respons manusia adalah dalam pengertian makna dan nilainya alih-alih dalam pengertian stimulasi fisik dari alat-alat inderanya (Douglas dalam Mulyana 2008:77). Dengan pengertian ini, banyak hal disekitar kita bisa diartikan sebagai simbol. Bahasa adalah simbol, gambar adalah simbol, ekpresi adalah simbol, dan masih banyak hal lainnya yang bisa diartikan sebagai simbol. Hal yang terpenting dalam simbol adalah bagaimana makna di dalamnya bisa memengaruhi orang, jadi simbol bukan persoalan ciri fisik semata (Rose 1974: 140). Dengan demikian, penganut interaksi simbolik yang beranggapan bahwa individu aktif dalam menafsirkan sesuatu disekelilingnya, mereka dapat menghindari problem-problem sturukturalisme dan idealisme dan mengemudikan jalan tengah di antara kedua pandangan tersebut.

Rabu, 15 April 2015

MEMBACA ANIME ONE PIECE : DUNIA DALAM PANDANGAN RAJA BAJAK LAUT



“Apa kau pernah mendengar harta karun luar biasa di penghujung lautan ini? siapa yang menemukannya akan menjadi raja bajak laut. Apakah orang itu aku? Petualangan besar akan menunggu kita di sana.”

            Apakah kau pernah membaca anime one piece? Anime one piece merupakan salah satu anime paling populer, paling keren, dan paling panjang yang pernah ada. Jalan cerita yang tersusun rapi dari hal terkecil ke hal global, kelucuan kasta tinggi, alur yang tegang,  dan beberapa kejeniusan khas ala Oda Sensei, akan menemani Anda selama membaca anime one piece.

Lautan, harta karun, raja bajak laut, dan petualangan besar (sebagaimana yang terdapat prolog di atas dan juga menjadi prolog dari beberapa anime one piece), belumlah semua hal yang dijanjikan dari petulangan Monkey D. Luffy dan kawan-kawan. Meski demikian, keempat hal tersebut bisa menjadi isyarat bagi kita menemukan hukum sebab-akibat dalam anime one piece. Untuk menemukan harta karun, siapapun harus berlayar menuju lautan luas dan meninggalkan tempat tidurnya yang nyaman beserta orang-orang yang disayanginya. Jika berhasil menemukan harta karun tersebut, orang itu akan menjadi raja bajak laut.  Akan tetapi, menjadi raja bajak laut hanyalah salah satu hadiahnya. Hal terbaik dari perjalanan mengarungi lautan luas untuk menemukan harta karun tersebut, adalah perjuangan dan petualangan besar dalam upaya mencapainya.

            Dengan tujuan yang sama seperti prolog di atas, di lain waktu, seperti ini prolog yang digunakan dalam one piece untuk menggambarkan petualangan menuju tempat ajaib yang selalu diimpikan bajak laut tersebut:

“Orang yang mewarisi impian dari semua orang adalah sesuatu yang tidak akan berhenti. Selama orang terus mencari arti dari kata kebebasan, maka orang tersebut tidak akan pernah meneyerah.”

“Dunia. Benar. Carilah kebebasan maka dunia akan berdiri tepat di depanmu. Jika mimpi tiada akhir memandu semangatmu maka raihlah dengan keyakinan penuh pada benderamu!





Sabtu, 04 April 2015

BERKENALAN DENGAN FENOMENOLOGI



“....Femomenologi adalah a science of beginning. Untuk bisa memahami fenomenologi orang harus bersikap sebagai pemula (beginner). Pemula dalam hal apa? Dalam segala hal. Orang bisa saja mejadi pemula dalam berbagai hal, misalnya dalam menyetir mobil, bermain tenis, berbicara dalam bahasa jepang, berenang, melihat pegunungan, menggunakan telepon, atau mengelola usaha. Tetapi pemula-pemula ini bukan pemula dalam segala hal, melainkan hanya pemula dalam hal-hal tertentu (untuk menjadi a science of beginning kita harus menjadi pemula dalam segala hal).  (Hardiman budi, Heidegger dan Mistik Keseharian (Jakarta:  Kepustakaan Populer Gramedia, 2003), hlm.22)”

            Berasal dari bahasa Yunani phainetahai yang berarti “yang menampakkan diri,” dan logos yang berarti “ilmu”, fenomenologi bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hal-hal yang menampakkan diri (phainomenon). Fenomenologi berkembang menjadi sebuah metode baru dalam filsafat dan ilmu pengetahuan di tangan Edmund Husserrl (1859-1938), akan tetapi istilah fenomenologi telah di kenal jauh sebelumnya pada masa Kant, Hegel dan Lambert.
             
            Terdapat beberapa perbedaan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya dalam mengartikan apa itu fenomenologi. Hegel misalnya menganggap fenomena sebagai tahapan menuju noumena. Sementara Kant membedakan pengertian antara fenomena dan noumena. Menurut Kant, manusia yang berkesadaran hanya bisa sampai ke fenomena dan tidak bisa sampai ke noumena, sebab manusia hanya bisa menangkap gambaran-gambaran tentang sesuatu di luar dirinya hanya menurut pada apa yang kesadaran manusia tangkap. Sedangkan Edmund Husserl, yang mendorong fenomenologi berkembang lebih jauh berpendapat bahwa fenomenologi seharusnya dikembalikan dalam konsepnya yang murni, dimana hal tersebut hanya bisa dicapai dengan epoche.
            

Kamis, 02 April 2015

MEMBACA ANIME FULLMETAL ALCHEMIST : BEYOND THE INFERNO

Aku  adalah sosok yang memberikanmu rasa keputus-asaan yang setara dengan yang kau harapkan agar kau tidak sombong.

Ranaka. Perasaan tidak nyaman seperti mendaki gunung yang tinggi, seperti  terbakar dalam api yang menyala-nyala, atau segala sesuatu yang terasa sesak di dalam dada yang mendorong orang yang merasakannya melakukan sesuatu yang jika sesudahnya pelakunya akan menyesal, di sebut ranaka dalam bahasa bugis. Kurang lebih artinya seperti itu. Jika saya merasa benci dan sangat ingin melampiaskan kemarahan saya ke orang-orang, itu artinya saya sedang maranaka. Jika saya merasa tidak nyaman di dada saya, tidak bisa tertidur, karena tetangga saya membeli sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan, itu artinya saya dalam ranaka.
Perasaan ketika sedang meranaka, sangat tidak menyenangkan. Selalu menunggu untuk dilampiaskan. Hanya saja anehnya, setelah dilampiaskan, seringkali kita merasa menyesal.  Tapi jika ditahan-tahan, akan menggangu sepanjang hari, bulan, bahkan mungkin seumur hidup.
Uniknya, kata “ranaka” adalah sebuah “homonim” dalam bahasa bugis. Kara ranaka menunjuk kedua arti yang bisa dipakai untuk hal yang berbeda. Jika kata ranaka yang “pertama” berhubungan dengan apa yang kita rasakan saat merasa iri, benci, dengki, atau marah, maka kata ranaka yang “kedua” menunjuk ke arti “neraka”.
   

       Berikut ini hanya dugaan saya, tapi sepertinya, kata “ranaka” yang pertama dan kata “ranaka” yang kedua punya hubungan yang erat. Bahkan, bisa jadi sebenarnya hanya ada satu kata. Maksudnya, jika saya merasa ranaka karena karena sedang benci, dengki, iri, pada seseorang, itu bisa jadi berarti saya memang berarti benar-benar berada dalam ranaka dalam artian yang kedua. Jika bukan seperti ini artinya, maka alternatif yang lain adalah, perasaan ranaka dalam artian yang pertama adalah hal yang akan menyebabkan kita untuk masuk dalam ranaka dalam artian kedua. Atau bisa jadi, perasaan saat kita sedang ranaka adalah sama efeknya jika kelak seseorang masuk dalam ranaka.

Selasa, 31 Maret 2015

MENGHENTIKAN WAKTU

 Tulisan lama lagi
sewaktu lagi sibuk-sibuknya berpindah 
dari cara berpikir yang satu ke cara berpikir yang lain


Jika kita bisa menemukan irama waktu..kita bisa terbang sekali lagi..
(ost.inuyasha: Fukai Mori-Do As Infinity)

                                             TINTA DI UJUNG PULPEN

Untuk sejenak, mari kita kembali berandai-randai. Bayangkan kita sedang tersesat dalam semesta. Tidak ada bumi, tidak ada matahari, planet-planet, dan semuanya. Yang ada hanya kita dengan kesendirian. Apakah yang kita rasakan? bagaimana kita menjelaskan waktu dalam keadaan ini? Apakah masih ada kemarin, hari ini, dan besok? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada saya, maka yang saya rasakan sekarang adalah bahwa saat itu tidak ada hari kemarin, hari ini, dan besok. Meski begitu, bukan berarti sudah tidak ada waktu.  Masih ada waktu di dalam kepalaku. Saya akan menciptakan waktu berdasarkan efek psikologis yang kurasakan. Itu karena saya dalam perandaianku, saya mebawa diriku yang sekarang yang tidak sedang dalam keadaan damai. Berada dalam waktu yang seperti itu akan membuat perubahan-perubahan psikologis dalam diri saya dan dari situlah saya menciptakan waktu.

Sekarang bayangkan lagi hal ini? Kita masih dalam keadaan yang sama hanya saja kondisi kita sekarang dalam keadaan stabil. Maksud saya, kita dalam keadaan damai. Tidak ada perubahan psikologis lagi dalam diri kita. Apakah saat itu masih ada waktu? saya sekarang, menjawabnya bahwa saat itu tidak ada lagi waktu. Tidak ada lagi yang namanya masa lalu, dan masa depan. Semuanya menjadi sekarang. Kita  terbebas dari ruang-waktu.Kita telah menghentikan waktu.

Namun sebelum itu, ada satu  pertanyaan penting yang perlu kita jawab? Apakah waktu itu?